Tampilkan postingan dengan label Dabiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq. Tampilkan semua postingan

8/19/2019

SAUDARA KANDUNG PARA MUHAJIRIN


SAUDARA KANDUNG
PARA MUHAJIRIN
OLEH UMMU SUMAYYAH AL-MUHAJIRAH


Dengan nama Allah yang telah menurunkan ayat bagi para muhajirah, dan memeliharanya di dalam Al-Quran hingga hari Kiamat, Shalawat dan salam semoga tercurah atas imam para mujahidin, orang yang paling dicinta oleh kaum anshar dan muhajirin, dan atas para keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan. Amma ba’du:

Maka sesungguhnya, di saat hijrah di jalan Allah adalah perkara yang sangat agung, maka Allah menurunkan sebuah ayat: (Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik, maka Allah meridhoi mereka dan mereka ridho kepada Allah, dan Allah mempersiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang agung) [At-Taubah: 100]. Demikian juga, seandainya bukan karena hijrah tentulah Nabi tidak akan memberikan permisalan kepada kita dengan sabdanya ‘Setiap amal itu tergantung dari niatnya’, di mana beliau bersabda: “Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Hijrah dari Makkah ke Madinah juga telah menjadi moment besar dan titik perubahan paling berpengaruh dalam misi kenabian, dia juga mengandung pelajaran yang sangat berharga, sehingga dia telah menjadi kejadian paling agung dalam sejarah Islam, dan dengan alasan ini dia menjadi dasar penanggalan dalam kalender Islam.

Hijrah di jalan Allah bertujuan untuk menyelamatkan diri dari fitnah, lantaran takut terjatuh ke dalamnya, dan menyelamatkan agama, karena terbiasa melihat kekufuran dan kesyirikan tanpa sedikitpun tergugah untuk merubahnya terkadang akan mematikan hati, sehingga tidak merasakan lagi perasaan Islam dan pemeluknya. Begitu juga di antara tujuan hijrah adalah untuk memperkuat barisan kaum muslimin dan membantu mereka untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dan juga musuh mereka.

Dan hijrah, menurut definisi yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah adalah “MENINGGALKAN DARUL KUFR MENUJU DARUL ISLAM” [Al-Mughni]. Syaikh Sa’d bin Atiq (rahimahullah) berkata, “Berpindah dari tempat syirik dan maksiat menuju negeri Islam dan ta’at” [Ad-Durar As-Saniyyah]. Dan Darul Islam Adalah negeri yang diatur oleh kaum Muslimin dan berlaku di dalamnya hukum-hukum Islam, sehingga yang menjadi penentu adalah kaum muslimin, walau terkadang mayoritas masyarakatnya adalah kafir, sedangkan Darul Kufr adalah negeri yang diatur oleh orang-orang kafir, berlaku di dalamnya hukum-hukum kafir dan yang menjadi penentu adalah orang-orang kafir, walaupun mungkin mayoritas masyarakatnya adalah muslim.

Adapun hukum hijrah, yaitu dari darul kufr menuju darul Islam, adalah Wajib. Allah berfirman {Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Mereka (para malaikat) bertanya, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali} [An-Nisa-97].

Imam Ibnu Katsir – rahimahullah – berkata: “Ayat ini menunjukkan kewajiban hijrah secara umum, maka setiap yang tinggal di antara masyarakat musyrik, dan dia sanggup untuk hijrah, dan tidak bisa leluasa menjalankan agamanya, maka dia berarti telah dzalim terhadap dirinya sendiri dan telah melakukan perbuatan haram secara ijma’, telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya dari Samurah bin Jundab (radhiyallahu anhuma) bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda; “Barangsiapa yang bercampur baur bersama orang-orang musyrik atau tinggal bersama mereka maka sesungguhnya dia seperti mereka”.

Dan seandainya tidak ada dalil-dalil lain atas wajibnya hijrah kecuali hadits-hadits Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam): “Tidak akan terputus HIJRAH hingga terputusnya taubat, dan tidak akan terputus taubat hingga matahari terbit dari barat” [diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu’awiyah radhiyallahu anhu] dan “Tidak akan terputus hijrah selama masih ada jihad” [Diriwayatkan oleh Ahmad], dan “Aku berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di antara orang-orang musyrik” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud], dan “TIDAK AKAN TERPUTUS HIJRAH SELAMA MUSUH MASIH DIPERANGI” [DIriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa`i], jika kita tidak memiliki dalil-dalil kecuali hadits-hadits ini, maka ini semua telah cukup dan memadahi untuk menolak syubhat orang-orang yang membuat ragu dan kedustaan orang-orang yang membuat khawatir.

Dan hukum ini wajib atas wanita sebagaimana dia wajib atas laki-laki, di mana Allah Ta’ala ketika mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup berhijrah, Dia mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan wanita sebagaimana mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan laki-laki. Allah berfirman; {Kecuali orang-orang lemah dari laki-laki, wanita dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan, maka mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun} [An-Nisa: 98-99]. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda; “Wanita adalah saudara kandung laki-laki” [diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Dan hari ini, setelah kaum muslimin menegakkan sebuah daulah yang berhukum dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan wilayah kekuasaan yang terbentang lebih luas dari beberapa Negara bentukan Sykes Pycot, dan para tentaranya telah mengembalikan tentang khilafah yang dijanjikan dengan tajamnya pedang bukan dengan sikap pasif, maka menguatlah alur hijrah sehingga setiap hari tidak hanya muhajirin yang berhijrah ke negeri Islam, namun juga muhajirah, mereka telah bosan hidup di tengah kekufuran dan orang-orangnya, maka ketika mentari Daulah yang mereka tunggu telah bersinar, mereka pun segera melesat ke sana, baik secara berkelompok maupun secara sendiri-sendiri, dari berbagai penjuru bumi, timur dan baratnya, berbagai warna kulit dan bermacam bahasa namun hati mereka bersatu di atas Laa ilaaha illallah, dan aku teringat di saat aku berhijrah dan aku adalah satu-satunya wanita Arab di tengah-tengah para akhowat muhajirah.

Jika pembicaraan tentang muhajirin adalah hal yang menakjubkan, maka membicarakan saudara mereka dari kalangan muhajirat adalah hal yang lebih menakjubkan! Berapa banyak kisah yang jika bukan karena aku mendengarnya langsung dari lisan pelakunya atau melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri, maka aku mengira itu hanya dongeng yang tidak masuk akal dan sesuatu yang mustahil!

Orang-orang yang tidak suka sering mengatakan bahwa mereka yang berhijrah ke Daulah Islam adalah kelompok masyarakat pinggiran di negerinya, hidup terlunta-lunta dengan susah payah antara menganggur, kemiskinan, problem rumah tangga dan gangguan jiwa, akan tetapi yang aku lihat berbeda dari itu semua! Aku melihat mereka adalah wanita yang telah mentalak dunia dan datang kepada Rabbnya, aku melihat para wanita yang zuhud dari kehidupan yang nyaman dan harta yang berlimpah, aku melihat wanita yang meninggalkan rumah megah dan mobil mewah untuk berlari di jalan Rabbnya dengan mengatakan di dalam hatinya {Wahai Rabbku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga} [At-Tahrim: 11], aku mengira mereka demikian, dan hanya Allah yang bisa memastikan.

Mereka adalah gelas-gelas kaca tetapi jiwa mereka adalah jiwa para ksatria, bahkan semangat mereka hampir merengkuh angkasa. Ya, mereka adalah para akhawat muwahhidat yang berhijrah ke pangkuan Daulah Islamiah, mereka telah mewarisi semangat ini dari ibunda mereka, istri Rasul mereka – shallallahu alaihi wa sallam – ibunda kaum mukminin; Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha, wanita yang telah hijrah ke Habasyah dan ke Madinah dan keluar dari Makkah dengan berbagai kemuliaannya, bersama sebelas wanita Quraisy lainnya dan tujuh wanita dari suku lain, dan juga saat hijrah kedua.


Sesungguhnya kisah hijrah para muwahhidat yang telah dikisahkan kepadaku tidaklah terlepas dari kesulitan dan ujian, semua dimulai ketika ukhti mengajukan idenya untuk keluar di jalan Allah, dan tantangan pertama bagi para muhajirah ini tidak lain adalah keluarga, dan kalian pasti tahu siapa itu keluarga! Kebanyakan keadaan keluarga mereka adalah orang-orang Islam yang awam, yang ketika mereka melayangkan ide hijrah maka seakan dia melayangkan sebuah batu karang ke atas mereka! Ya, seorang wanita adalah kehormatan mereka dan hak mereka untuk khawatir kepada mereka, akan tetapi mereka tidak khawatir atau takut apabila ukhti ini akan melakukan perjalanan mereka ke Paris atau London untuk mencari ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan engkau dapati mereka mengharap hal itu, berusaha membantu dan membanggakannya, tetapi jika tujuannya adalah Daulah Islamiah, maka semua akan menjadi fuqaha, yang memutuskan ini boleh dan itu tidak boleh! Dan demi Allah, aku mengenal seseorang yang keluar menemani suaminya menuju bandara dan tiba-tiba dihentikan oleh tentara thaghut setelah keluarganya memberikan informasi tentang mereka! Ini kisah wanita yang bersama mahram, lalu bagaimana yang tidak?

Maka di sini aku ingin mengatakannya dengan suara paling lantang, kepada orang-orang yang hatinya sakit berkepanjangan atas kehormatan para wanita yang menjaga diri, hijrah wanita dari Darul Kufr adalah kewajiban atasnya, baik bersama mahram atau tanpa mahram, jika dia mengetahui jalan yang relativ aman dan takut kepada Allah terhadap dirinya, pergi keluar tanpa menunggu siapa pun, pergi bersama agamanya dan sampai di negeri yang Islam menjadi jaya dan juga pemeluknya, dan siapa yang ragu akan hal ini maka telitilah kembali kitab-kitab fiqh dan pendapat para ulama, dan beritahukanlah kami, kepada siapa ayat mulia ini ditu-runkan?

“Hai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perampuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka, Allah lebih tahu tentang keimanan mereka, dan jika engkau telah mengetahui tentang keimanan mereka maka janganlah engkau kembalikan mereka kepada orang-orang kafir”
[Al-Mumtahanah: 10].

Akan tetapi, orang-orang yang berisik ini tidak sepakat dengan kita dalam hal pokok, yakni tegaknya Daulah Islamiyyah walau telah terpenuhi syarat dan legitimasinya, lalu bagaimana mereka mau mendebat kami dalam masalah yang hanya cabangnya saja, yaitu hijrahnya para wanita tanpa mahram dari Darul Kufr menuju Darul Islam?! Maka tidak ada yang bisa kami ucapkan kecuali cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik penolong kami dari setiap orang yang menghalangi para muhajirah walau dengan satu huruf, dan di sisi Allah kelak akan diputuskan segala peraduan!

Lalu ukhti kita ini pun berhasil melewati tantangan keluarga, dengan jalan dan pengawasan dari Allah dan kemudahan dari-Nya, dia harus menempuh perjalanan panjang dan berat, walau sebenarnya menyenangkan dan penuh kenangan indah, dan sungguh terkadang kami bertukar kisah dan pengalaman hijrah kami, bertukar perasaan yang dialami dalam perjalanan hijrah kami, dan seakan-akan kami baru keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari gua yang sempit dan sesak menuju lembah hijau yang luas, bahkan demi Allah, seakan kami baru saja dibangkitkan dari kematian! Ya benar, memang ada rasa takut, di sana ada rasa khawatir dan gelisah, karena mereka yang membenci muwahhid senantiasa terus mengintai, akan tetapi siapakah yang memberi keteguhan? Siapakah yang memberi rasa aman, siapakah yang memberikan rasa tenang di hati hamba-hamba yang lemah? Dia adalah Allah… Raja Diraja!

Aku pernah bertemu dengan seorang ukhti yang sedang hamil di usia keenam bulan, dia bersama suaminya berasal dari Inggris, aku sangat heran dengan petualangan mereka, aku bertanya, “Mengapa engkau tidak menunggu melahirkan bayimu lalu membawanya dan pergi berhijrah?” dia menjawab; “Tidak, kami tidak bisa lagi menunggu lebih lama, kami telah meleleh karena rindu dengan Daulah Islam!”

Ada juga wanita lain yang hijrah bersama suaminya, dia dalam keadaan hamil, melakukan perjalanan menggunakan mobil dan menyeberangi tiga Negara hingga sampai di pangkuan Daulah Islamiah, dan Allah menakdirkannya melahirkan janinnya dalam keadaan meninggal, mungkin karena perjalanan yang cukup berat yang dia hadapi hingga berpengaruh kepada janinnya. Ya, dia meninggal dan dimakamkan di Daulah Islamiyyah dan ibunya dalam keadaan senang dan bersyukur – aku menganggapnya demikan dan hanya Allah yang bisa menghisabnya – ya, dia meninggal di Daulah Islamiyah dalam keadaan fithrah, dan itu lebih baik dari pada dia dimatikan dalam keadaan teracuni kurikulum pendidikan thaghut. Betapa mahalnya hijrah dan alangkah murahnya pengorbanan di jalannya.

Dan ada juga seorang wanita tua, nenek yang menemaniku dalam perjalanan yang menyenangkan, dia datang menemani seorang anak lelakinya, seorang anak perempuannya dan seorang cucunya, dan setelah bercerita panjang lebar apa yang dia hadapi dari kesulitan dan ujian hingga dia berhasil meninggalkan negerinya, dia mengatakan; “Putraku telah terbunuh, sehingga aku datang ke sini dengan anak laki-lakiku yang lain, anak perempuanku dan cucuku!” Allahu Akbar, Engkau telah membuat lelah orang yang ingin menyaingimu wahai nenek!

Maka tidaklah jalan kebenaran itu berhamparkan kecuali dengan duri, dan tidaklah surga itu dikelilingi kecuali dengan sesuatu yang dibenci jiwa, dan di jalan menuju surga maka tidak ada tempat bagi para penakut dan pengecut!

Jika aku lupa akan sesuatu, maka aku tidak akan lupa saat-saat aku pertama kali menginjakkan kaki ini ke tanah Islam yang indah, saat-saat melihat panji al-‘uqab berkibar gagah! Berapa lama hati ini melihat berhala yang berkibar di negeri-negeri kufur! Dan checkpoint pertama yang kami lihat, gambaran pertama tentang tentara Daulah Islam, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di internet dan televisi, kumuh dan berdebu dengan percikan darah dan kotor, tapi sekarang aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, air mataku menetes deras dan lisanku bertakbir dengan perlahan! Duhai, alangkah banyak kebaikan yang terhalang untukmu wahai orang yang tetap duduk-duduk dan enggan berangkat jihad?

Allah berfirman: {Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali} [An-Nisa: 97]. Ibnu Qudamah (rahimahullah) mengatakan; “Dan ancaman keras ini menunjukkan bahwa itu adalah wajib” [Al-Mughni].

Namun ayat ini kemudian didengar oleh telinga para wanita hamba Allah dan merenungkannya, sehingga tumbuhlah semangat dan dia pun segera berhijrah meninggalkan negerinya, keluarganya, teman-teman dan cita-citanya demi hidup di bawah naungan syari’at Islam! Dan setiap kali aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Apa yang membuatmu datang ke mari?” selalu aku dengar sebuah jawaban yang berulang-ulang; “Syari’at Allah” sebuah jawaban singkat namun jelas dan telah mencakup semua! Sedangkan telinga kaum laki-laki dari putra-putra kaumku, maka seolah telinga mereka tersumpal sesuatu – kecuali mereka yang dilindungi Allah – yang ini tertahan oleh dunia, yang itu tertahan oleh istrinya, dan yang lain mencari fatwa dari para ‘syaikh’ yang menakutkan, dan berkata; “Hai anakku, tetaplah engkau duduk di sini dan jauhilah olehmu fitnah”, dan sebagian lagi akalnya terkena tiupan setan sehingga menjadi samar beberapa hal, sehingga tidak bisa mengetahui kebenaran dari kebathilan, dan kepadanya aku katakan; “Dua raka’at di tengah malam, beberapa sujud dengan tulus, doa yang berlinang air mata, dan ‘Ya Allah, perlihatkanlah aku kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniailah aku kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukilah aku kebathilan itu sebagai kebathilan dan karuniailah aku kekuatan untuk menjauhinya”, jika engkau jujur dalam melakukannya maka tidak perlu waktu lama engkau menunggu. 

Sesungguhnya aku, berapa pun yang aku katakan dan apa yang aku tuliskan, maka aku tidak bisa memenuhi hak para muhajirat Daulah Islam, andaikan bukan suatu halangan tentu akan aku tuliskan dengan air mata kisah-kisah mereka, aku pernah melihat dua wanita yang mengeluarkan anak-anak mereka yang berusia sekitar lima belas tahunan, di suatu malam ketika perang sedang berkecamuk, dua wanita ini mendorong anak mereka keluar rumah sambil terus mengucapkan; “Allahu Akbar! Pergilah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Rabbi! Sesungguhnya mereka adalah anak-anak mereka, belahan jiwa mereka, akan tetapi tidak ada yang lebih mahal dari dien ini dan dari umat ini! Ya, mereka adalah para muhajirat Daulah Islamiyyah dan tidak lebih mulia dari ini, mereka telah mengenal dan faham dengan Haritsah yang berada di Firdaus lewat persaksian pemimpin para manusia, (shallallahu alaihi wa sallam), - demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya – “Sungguh Haritsah telah meninggal pada saat perang Badar, dan ketika itu usianya masih muda, ibunya datang menemui Nabi (shallallahu alaihi wa sallam) dan berkata; “Wahai Rasulullah, engkau tahu kedudukan Haritsah di hatiku, jika dia sekarang berada di surga maka aku akan bersabar dan mengharap pahala Allah, jika sebaliknya maka Engkau akan melihat apa yang akan aku perbuat”. Maka Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam) bersabda; “Kasihan engkau… apakah engkau telah kehilangan fikiran, apakah engkau kira hanya satu surga? Sungguh itu adalah surga-surga, dan sesungguhnya dia ada di surga Firdaus”. [Shahih Al-Bukhari].

Di sini, aku ingin berbisik di telinga setiap ukhti muhajirah, yang diuji dengan kehilangan suami di medan juang di Daulah ini; “Teguhlah wahai saudari ku, bersabarlah dan berharaplah akan pahala Allah, dan janganlah, sekali lagi janganlah engkau berfikir untuk kembali ke bumi para thaghut, dan ketahuilah bahwa engkau juga memiliki akhawat yang juga telah diuji dengan ujian seperti ujianmu, dari terbunuhnya suami, ada yang diamputasi, ada yang lumpuh, ada juga yang tertawan musuh, akan tetapi mereka tetap teguh laksana gunung yang menjulang, tidaklah ujian itu semua kecuali membuat mereka semakin sabar dan kuat, dan janganlah engkau lupa bahwa balasan itu sesuai dengan kadar ujian, dan “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi pada seorang pun kecuali pada seorang mukmin, jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan itu baik untuknya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, dan itu juga baik untuknya” [Shahih Muslim].

Ini adalah jalan para mukminat yang bersabar, tidak seperti para lelaki gadungan yang masih saja kita lihat digembosi oleh apa yang disebut ‘Minbar Tauhid wa al-Jihad’ yang menyeru untuk mengeluarkan para wanita dari wilayat Ninawa yang diberkahi.

Dan kepada mereka yang masih mengenakan pakaian nasihat dari minbar mukhadzil itu, aku katakan: “Engkau berkata dengan kedustaan atas kekhawatiran kalian kepada para wanita muwahhidat, padahal mereka sendiri tidak takut kecuali hanya kepada Allah semata, jika engkau masih memiliki kebaikan tentu engkau telah mengenakan pakaian perang untuk membela umat dan datang untuk beribath di perbatasan Mosul untuk melindungi ‘akhawatmu’, akan tetapi jauh dan jauh sekali…semoga Allah memburukkan turban para wanita PKK, mereka justru lebih jantan dari mereka!

Dan akhir dari doa kami adalah segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah atas sayyidina Muhammad, dan atas keluarga dan seluruh shahabatnya.



Source: DABIQ 8

KISAH SYAIKH ABU TALHAH


AMONG THE BELIEVERS ARE MEN:
SYAIKH ABU
TALHAH
ABDUR-RAUF KHADIM AL KHURASANI

Syaikh Abu Thalhah ‘Abdurrauf Khadim Al-Khurasani (rahimahullah), juga dikenal sebagai Mulla Khadim, dilahirkan di Helmand di desa Adzan. Beliau mulai mempelajari ilmu-ilmu syari’at pada usia muda disebabkan kuatnya keinginan untuk belajar agama. Beliau kemudian bergabung dengan kafilah jihad, membuka sebuah lembaran baru kehidupan beliau. Syaikh Abu Thalhah bergabung dengan Muhammad ‘Umar (pemimpin Thaliban) di mana beliau kemudian bekerjasama dengannya di dewan hisbah (‘amar ma’ruf dan nahi mungkar), dan beliau biasanya memandang menjadi petugas hisbah merupakan suatu bagian terpenting di dalam hidup beliau.

Setelah beberapa waktu dan dengan rahmat Allah, Kabul dibebaskan dan Syaikh menderita cedera akibat tembakan tank dalam sebuah pertempuran di Syar Asiyat dan kehilangan kakinya. Ini merupakan pengorbanan besar di jalan Allah dalam pertempuran. Beliau ditunjuk oleh Thaliban sebagai direktur pendidikan tinggi militer di Kabul dan juga melanjutkan peran pentingnya sebagai komandan lapangan di garis depan selama invasi pasukan salib di Afghanistan. Beliau ditangkap oleh Amerika dalam salah satu pertempuran dan termasuk di antara sejumlah tawanan yang dipindahkan ke Guantanamo di mana beliau ditahan selama enam setengah tahun di salah satu tempat dengan kondisi yang paling menakutkan. Pihak Amerika kemudian menyerahkan beliau kepada boneka-boneka Afghanistan dan kembali dimasukkan ke dalam penjara selama satu setengah tahun oleh rezim murtad.

Masa di penjara ini, bagaimana pun justru menjadi periode baginya untuk lebih lanjut mencari ilmu dan meninjau kembali ‘aqidah Ahlus Sunnah. Pada awalnya beliau berada di atas ‘aqidah Deobandi yang diliputi penyimpangan berkaitan dengan asma’ dan sifat Allah serta aspek-aspek keimanan lainnya (termasuk irja’). Beliau meninggalkan ‘aqidah ini, mengadopsi Sunnah yang murni, dan sesudah itu, berjuang di sisa-sisa hidup beliau untuk mengajak manusia kepada rahmat yang besar ini.

Setelah dibebaskan dari penjara di Kabul, beliau bergabung kembali dengan Thaliban dan menjadi seorang anggota majelis syura mereka. Beliau diangkat menjadi wali atas 14 wilayah Afghanistan. Beliau aktif dalam berdakwah, mengajak manusia kepada ‘aqidah tauhid. Sebagai akibatnya beliau dipecat dari posisi sebagai wali, sebab ‘aqidah tauhid bertentangan dengan ‘aqidah Deobandi yang dipegang oleh sejumlah besar pemimpin Thaliban. Beliau tetap menjadi komandan lapangan dan benar-benar membuktikan kemampuannya, sehingga hasilnya beliau sekali lagi diangkat menjadi wali, kali ini atas tiga wilayah. Beliau kembali fokus dalam menyeru kepada tauhid dan sebagai akibatnya kembali beliau dipecat dari posisi sebagai wali. Beliau kembali menjadi komandan lapangan sekali lagi.

Syaikh Abu Thalhah telah lama sekali memimpikan untuk melihat kembalinya Khilafah, sebagaimana halnya banyak di antara mujahid yang berperang untuk meraih tujuan besar itu, sehingga kejayaan umat muncul kembali. Ketika Khilafah diumumkan, beliau berada di antara ikhwan yang ingin segera mendeklarasikan bai’at mereka dan bergabung dengan kafilah Khilafah. Bersama dengan ikhwan di Khurasan, beliau menunjukkan syarat yang diperlukan bagi mereka agar kepemimpinan Daulah Islam secara resmi mengakui bai’at mereka. Maka Khilafah mengadakan ekspansi ke Khurasan dan menunjuk Syaikh Abu Thalhah sebagai deputi wali bagi daerah tersebut, menjadi orang kedua setelah wali Syaikh Hafizh Sa’id Khan (hafizhahullāh).

Setelah pengumuman bai’at Khurasan, Syaikh Abu Thalhah mulai berkeliling daerah di dalam kafilah tentara Khilafah, mengajak suku-suku lokal untuk memberikan bai’at kepada Khalifah. Sejumlah tetua suku menjawabnya dengan positif, mengulurkan tangan mereka dan menyatakan janji setia mereka. Akhirnya, mendengar kehadiran Syaikh Abu Thalhah di Adzan, para partisan Deobandi yang pro Thaliban di daerah tersebut memblokir jalan dan pos pemeriksaan, mencegah beliau untuk meninggalkan desa hingga sebuah serangan udara Amerika membunuh beliau bersama dengan lima orang sahabat beliau pada hari Senin, 21 Rabi’ul Akhir. Dengan demikian, Syaikh Abu Thalhah meraih syahadah pada usia 45 tahun setelah kehidupan yang dipenuhi jihad, hisbah, dan dakwah.

Kami memandang demikian dan hanya kepada Allah hisabnya. Semoga Allah merahmati beliau beserta sahabat-sahabat beliau dalam kesyahidan.


Source: DABIQ 8

8/18/2019

WASIAT UNTUK PARA AMIR DAULAH ISLAM


WASIAT UNTUK
PARA AMIR
DAULAH ISLAM
Oleh : Abu Hamzah Al-Muhajir (rahimahullah)

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya dan kepada orang-orang yang mengikutinya. Amma ba’du:

Wahai saudara-saudaraku Mujahid, ini adalah beberapa nasehat, yang saya kumpulkan bagimu dari lisan-lisan para tokoh dan kandungan berbagai kitab. Dan saya sama sekali tidak mengklaim (sebagai) ahli hikmah. Saya memohon kepada Allah agar menjadikannya manfaat bagi diri saya dan kalian. Allah-lah di balik tujuan ini.

[1] Ikhlaslah karena Allah, karena di dalamnya keselamatan di dunia dan akhirat.
Rasulullah (shallallahu ‘alayhi wa sallam) bersabda, “Allah telah menjamin bagi orang yang berjihad di Jalan-Nya dan dia tidak keluar kecuali untuk jihad di jalan-Nya dan pembenaran kalimat-kalimat-Nya, untuk memasukannya ke dalam surga atau memulangkannya ke rumahnya yang dia keluar darinya bersama apa yang dia dapatkan berupa pahala atau ghanimah.”

Dan bertujuanlah dengan amalmu itu agar kalimat Allah-lah yang tertinggi, karena diriwayatkan dari Abu Musa, berkata, “Rasulullah (shallallahu ‘alayhi wa sallam) ditanya tentang pria yang berperang karena keberanian, dan berperang karena fanatisme, dan berperang karena riya, mana di antara itu yang fi sabilillah? Maka berkatalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa berperang supaya kalimat Allah-lah yang tertinggi, maka dia itu Fi sabilillah.”

[2] Adil dan Tulus kepada orang-orang yang kamu pimpin,
karena “Tidaklah seorang amir (yang memimpin) sepuluh orang melainkan ia kelak didatangkan di hari kiamat seraya di belenggu yang tidak dilepaskan kecuali oleh keadilan atau ia dijerumuskan oleh aniaya”, dan “Tidaklah seorang amir yang menangani urusan kaum muslimin terus ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak tulus kepada mereka, melainkan ia itu tidak masuk surga bersama mereka”, dan “Tidaklah Allah mengangkat seorang hamba untuk mengayomi masyarakat, (terus) ia mati saat ia mati sedangkan ia menipu mereka melainkan Allah haramkan surga terhadapnya.”

[3] Musyawarah dan Diskusi (munadharah),
di mana diskusi ini adalah sejawat musyawarah, yaitu: duduk untuk melontarkan pikiran di majelis, dan komentar setiap orang terhadap pendapat orang lain, atau mencari tahu pendapat baru, kemudian di akhir memilih pendapat yang tepat. Allah ta’ala berfirman: {Dan ajaklah mereka bermusyawarah di dalam urusan itu} [Ali ‘Imran: 159], di mana Allah telah mengarahkan Nabi-Nya untuk mengajak musyawarah orang-orang yang di bawah level beliau padahal akal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cemerlang lagi unggul, maka bagaimana halnya dengan kalian?

Dan sebagaimana diriwayatkan: “Tidak menyesal orang yang melakukan musyawarah, dan tidak kecewa orang yang melakukan istikharah”, dan dikatakan: “Barangsiapa merasa cukup dengan akalnya maka ia tersesat, barangsiapa mencukupkan diri dengan pendapatnya maka ia tergelincir, barangsiapa meminta pendapat orang-orang yang berpemikiran maka ia menempuh jalan yang tepat, dan barangsiapa meminta bantuan orang-orang yang berakal maka ia berhasil meraih apa yang diharapkan”.

Maka hendaklah setiap amir memiliki majelis syura yang hakiki, mulai dari amir umum sampai pada amir-amir sariyyah (brigade). Akan tetapi kamu jangan meminta pendapat orang yang memiliki hajat yang ingin ia tunaikan, dan jangan pula orang yang kamu rasa bahwa ia berambisi kepadanya, dan jangan pula orang yang tidak menimbang-nimbang pikiran pada pendapatnya, karena ada ungkapan: “Biarkan pendapat sehingga ia matang,” dan telah ada dari Ali radliallahu ‘anhu: “Pendapat syaikh (orang tua) itu lebih baik dari penyaksian anak muda” yaitu di dalam peperangan, dan jangan meminta pendapat kecuali saat menyendiri, karena ia lebih menjaga rahasia dan lebih bisa terkendali bagi orang yang kadang menyebarkannya.

Memang benar! “Sesungguhnya musyawarah dan diskusi itu adalah dua pintu rahmat dan dua kunci barakah yang tidak mungkin terlewatkan satu pendapat pun bersama keduanya”.

[4] Hati-hatilah jangan sekali-kali kamu mengedepankan orang yang menyetujui pendapatmu saja, dan waspadalah dari pendamping yang buruk, biasakanlah dirimu untuk sabar terhadap orang yang menyelisihimu dalam pendapat dari kalangan orang-orang yang tulus, teguklah kepahitan ucapan mereka dan kritikan mereka, dan jangan berlapang dada dalam hal itu kecuali kepada orang-orang baik, berakal, berumur, bermuru’ah dan menjaga kehormatan.

[5] Tidak ada yang lebih melenyapkan dien dan dunia dari lenyapnya kabar masyarakat yang sebenarnya dari amirnya; maka dari itu janganlah menutupi diri dari mereka, karena kamu ini hanyalah manusia yang tidak mengetahui apa yang disembunyikan manusia darimu. Dan jangan sekali-kali kamu berlindung dengan alasan keamanan, sehingga kamu aman namun orang-orang yang di bawahmu terlantar; maka seburuk-buruknya amir adalah kamu kalau begitu.

Awasilah segala urusan oleh dirimu sendiri setelah mengangkat orang-orang kepercayaan yang tulus, karena kadang berkhianat orang yang terpercaya itu, dan kadang menipu orang yang tulus itu, maka carilah kejelasan dari semua urusan. Allah ta’ala berfirman: {Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau sebagai khalifah (penguasa) di bumi, maka putuskanlah (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.} (Shaad: 26)

“Allah ta’ala tidak mencukupkan dengan sindiran tanpa langsung (perintah), dan tidak mengudzur dalam penyibukan diri dengan merasa cukup dengan mewakilkan sehingga Dia menyertakannya dengan kesesatan.”

Dan jangan tergesa-gesa membenarkan penebar isu yang ingin merusak, karena orang semacam itu adalah penipu walau dia menyerupai orang-orang yang tulus, tapi jangan kamu buang begitu saja ucapannya, karena bisa saja dia itu jujur, dan berbaik sangkalah kepada ikhwanmu, karena berbaik sangka itu memutus dirimu dari kelelahan yang panjang.

[6] Seyogyanya bagi amir membawa dirinya dan bala tentaranya untuk komitmen dengan hak-hak yang telah Allah ta’ala wajibkan dan dengan batasan-batasan yang telah Allah perintahkan (karena orang yang berjihad membela agama adalah orang yang paling berhak untuk komitmen dengan hukum-hukumnya), sebab kamu tidak akan melakukan perbaikan sedangkan kamu sendiri rusak, dan tidak akan bisa membimbing sedangkan kamu sendiri menyimpang, dan tidak akan menunjuki jalan sedangkan kamu sendiri sesat, karena bagaimana bisa orang buta menjadi penunjuk, dan orang hina menjadi jaya?

Sedangkan tidak ada yang lebih hina dari kehinaan maksiat, dan tidak ada yang lebih jaya (mulia) dari kejayaan ketaatan, maka jauhkanlah dirimu dari akhlak-akhlak yang rendah dan pertemanan dengan orang-orang fasiq.

[7] Hati-hatilah, jangan sampai kesempitan kondisimu dalam suatu hal mendorongmu untuk mencarinya dengan yang tidak benar; karena sesungguhnya kesabaranmu terhadap kesempitan yang kamu harapkan keberakhirannya dan keutamaan akibatnya adalah lebih baik daripada maksiat yang kamu khawatirkan tuntutannya. Sedangkan poros dien itu adalah kesabaran.

[8] Hati-hatilah, jangan kamu mengistimewakan dirimu dengan kendaraan atau pakaian; karena Umar telah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallahu ‘anhuma: “… dan telah sampai berita kepadaku bahwa telah merebak pada dirimu dan keluargamu model pada pakaianmu, makananmu dan kendaraanmu, yang berbeda dengan keumuman kaum muslimin; maka hati-hatilah wahai Abdullah jangan sampai kamu seperti hewan ternak, ia melewati lembah yang subur, maka tidak memiliki keinginan kecuali menggemukan diri, padahal kebinasaannya itu hanyalah pada kegemukan, dan ketahuilah bahwa bila pemimpin menyimpang maka menyimpanglah rakyatnya, dan orang yang paling celaka adalah orang yang rakyatnya menjadi celaka dengan sebabnya.”

[9] Ketahuilah bahwa peperangan itu sebagaimana yang mereka katakan: Bebannya adalah kesabaran, porosnya adalah tipu muslihat, lingkarannya adalah ijtihad, pelurusnya adalah ketelitian, dan kendalinya adalah kewaspadaan. Dan bagi masing-masing hal itu ada buahnya; di mana buah kesabaran adalah pertolongan, buah tipu muslihat adalah kemenangan, buah ijtihad adalah taufiq, buah ketelitian adalah optimisme, dan dan buah kewaspadaan adalah keselamatan.

‘Amr ibnu Ma’di Kariba ditanya tentang perang, maka ia mengatakan: “Barangsiapa sabar di dalamnya, maka ia mengenal, dan barangsiapa urung darinya, maka ia binasa”, maka hindarilah ketergesa-gesaan, karena berapa banyak ketergesa-gesaan itu melahirkan penyesalan.

[10] Kedepankan orang-orang yang memiliki pengalaman dan yang kuat untuk menghadapi musuh saat peperangan berkecamuk, dan sebarlah mereka pada sariyah-sariyah supaya menjadi kuat orang yang lemah dengan sebab mereka, dan menjadi berani orang penakut dengan sebab keberanian mereka.

Hati-hatilah, jangan sampai orang penggembos atau penebar isu menyertai ikhwanmu, dan waspadalah terhadap mata-mata dan intel. Di mana berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Akan tetapi jangan kamu pilih di dalam peperangan itu orang-orang yang kuat saja dan kamu tinggalkan orang-orang lemah yang menginginkan apa yang ada di sisi Allah, karena sesungguhnya:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dan tidaklah kalian itu diberi kemenangan dan diberi rizqi kecuali dengan sebab orang-orang lemah kalian”, dan sesungguhnya Allah menolong suatu kaum dengan sebab orang paling lemah mereka.

[11] Jangan menelantarkan perlengkapan yang bisa dipakai, seperti rompi anti peluru dan helm pelindung, dan itu bukan tergolong sikap pengecut, karena sungguh manusia paling berani yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki baju besi, namun ini tidak menghalangi dari bertempur tanpa memakai pelindung pada waktunya yang tepat.

Habib ibnul Muhallab berkata: “Aku tidak melihat di dalam peperangan seorang pria yang memakai pelindung kepala melainkan ia itu bagiku adalah dua orang, dan aku tidak melihat dua orang yang tanpa pelindung melainkan keduanya bagiku adalah satu orang”,

maka ucapan ini didengar oleh sebagian orang yang berpengalaman, maka ia berkata: “Dia benar! Sesungguhnya senjata itu memiliki keutamaan; apa kamu tidak melihat mereka saat memanggil pada kondisi genting; ‘Senjata, senjata,’ dan mereka tidak memanggil: ‘pasukan, pasukan'”.

[12] Sesungguhnya amir yang bijaklah yang membekali ikhwannya dengan perbekalan yang bisa menguatkan diri mereka sepanjang hari berupa makanan dan minuman. Para pejuang salah seorang panglima Afghan yang memusuhi Taliban, bila kita periksa saku mereka maka kita mendapatkan zabib (anggur kering) di dalamnya.

[13] Seyogyanya bagi amir menunjuk bagi setiap grup amirnya, dan ia memeriksa kendaraan dan persenjataan ikhwannya dan perbekalannya, terutama sebelum penyerangan. Ia jangan memasukan di dalamnya apa yang susah di bawa saat kondisi gawat dan serius, dan jangan mengosongkan darinya apa yang dibutuhkan saat terjadi apa yang di luar dugaan dan jauhnya perjalanan, terutama bila diprediksi lamanya peperangan.

[14] Seyogyanya jumlah muqatil dalam satu mobil tidak boleh lebih dari tiga, kecuali kepentingan menuntutnya, dan hendaklah ia menjamin hubungan komunikasi yang aman yang sudah dikaji di antara sariyah-sariyah itu, serta ia menetapkan bagi mereka sandi untuk ucapan mereka dan syi’ar (slogan) untuk peperangan mereka.

[15] Amir harus memperdengarkan kepada rakyatnya dan bala tentaranya suatu yang mengokohkan jiwa mereka dan membuat mereka merasa optimis bisa mengalahkan musuh mereka, serta mengutarakan kepada mereka dari sebab-sebab kemenangan suatu yang dengannya mereka menganggap kecil musuh mereka.

Allah ta’ala berfirman: {(ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak, tentu kalian menjadi gentar dan tentu kalian akan berbantah-bantahan dalam urusan itu} [Al-Anfal: 43]

[16] Seyogyanya bagi amir mempelajari dengan cermat lokasi peperangan, maka dia jangan berperang dari lokasi yang mudah dia disergap tanpa menutup celah, dan jangan membawa terlalu jauh pasukannya yang menjadikannya mustahil bisa kembali membawa pulang mereka dalam keadaan aman.

[17] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“PERANG ADALAH TIPU DAYA"
Al-Muhallab berkata: “Gunakanlah tipu daya dalam peperangan, karena ia itu lebih membuat berhasil daripada keberanian”, dan di antara tipu daya adalah:
a. Menebar mata-mata.
b. Mencari-cari berita.
c. Tauriyah (penyembunyian maksud) dalam peperangan,
di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila ingin melakukan suatu peperangan, maka beliau menutupinya dengan yang lain. “Bila sempit dada seseorang dari rahasia dirinya. Maka dada yang dititipkan rahasia lebih sempit” [Syair]

Dan waspadalah terhadap musuhmu bagaimanapun keadaannya, supaya dia tidak:
a. Menyergap dari jarak dekat.
b. Atau menyerbu secara tiba-tiba dari kejauhan.
c. Atau bersembunyi menunggu lengah.
d. Atau menyusul kalian setelah kembali.

[18] Di antara tanda pengalaman seorang amir dan kecerdikannya adalah memanfaatkan kesempatan, “Karena kesempatan itu berlalu cepat seperti awan, dan jangan kalian mengejar bekas setelah berlalu”, dan sergaplah saat kepalanya muncul dan jangan menyergap pada ekornya!

“Bila berhembus anginmu, maka gunakanlah kesempatannya. Karena bagi setiap yang bergerak itu ada diamnya” [Syair]

[19] Boleh bagi amir pasukan untuk menceburkan  kepada kesyahidan
dari kalangan yang menginginkannya orang yang diketahui bahwa pada keterbunuhannya di dalam peperangan itu menjadi penyemangat bagi kaum muslimin terhadap peperangan karena pembelaan untuknya.

Dan sebaliknya juga benar, yaitu: ia menjaga orang yang pada keterbunuhannya bisa menghancurkan kekuatan ikhwannya, seperti komandan yang istimewa; oleh sebab itu posisi jantung adalah tempat paling terlindungi dan paling jauh dari musuh.

[20] Jangan kamu mengizinkan ikhwanmu untuk membunuh atau menawan apa yang bisa memecah barisan mereka dan membuat mereka berselisih dengan sebabnya, bahkan walaupun hal itu boleh dari satu sisi, karena persatuan barisan saat qital itu adalah mashlahat paling utama.

[21] Hati-hatilah dari darah dan penumpahannya tanpa haq,
karena tidak ada suatu pun yang lebih cepat mendatangkan adzab dan melenyapkan nikmat daripada penumpahan darah tanpa haknya. Jangan sekali-kali kamu mengokohkan urusanmu dan tentaramu dengan darah yang haram, karena sesungguhnya hal ini adalah hal segera yang kemudian harinya adalah kelemahan dan keambrukan, sehingga tidak ada udzur bagimu di sisi Allah dan juga di sisi kami. Dan demi Allah tidak diadukan kepada kami kasus darah yang ditumpahkan dari orang ma’shum dari kalangan Ahlussunnah tanpa bukti nyata yang menunjukan bahwa ia melakukan apa yang menghalalkan darahnya dan tanpa syubhat melainkan kami pasti mengambilkan haknya baginya.

[22] Jangan kamu terpedaya dengan mudahnya ‘amaliyyah tertentu;
karena bisa saja tempat yang turun itu sesudahnya adalah jurang yang mencekam, oleh sebab itu maka hendaklah pikiranmu untuk harimu itu dan untuk esok harinya; karena tidak ada yang lebih membahayakan manusia daripada amir yang berpikir hanya untuk harinya.

[23] Balaslah orang yang berbuat baik atas perbuatan baiknya, dan muliakanlah sariyah setelah keberhasilan, berikanlah penghargaan kepada pemberani di hadapan umum, dan berikanlah sangsi terhadap orang yang berbuat salah atas kesalahannya walau dengan hajr; karena boleh bagi amir untuk memberikan pelajaran kepada orang yang maksiat terhadap perintahnya, dan bila kamu tidak melakukannya, maka orang yang berbuat baik menjadi malas dan orang yang berbuat salah menjadi lancang, dan rusaklah urusan serta sia-sialah amalan.

Dan hendaklah balasan baik kepada orang yang berbuat baik itu dilakukan di hadapan umum, sedang sangsimu kepada orang yang berbuat salah adalah secara sirr (rahasia), terutama terhadap orang-orang baik di antara mereka, adapun orang-orang yang rusak maka sangsi dilakukan di hadapan manusia, dan syari’at telah datang dengannya.

Hati-hatilah jangan berlebih-lebihan dalam pemberian sangsi atau menyesal atas pemberian maaf, dan hindari juga sikap kasar yang membuat orang lari, karena syari’at ini memberikan sangsi untuk memperbaiki bukan untuk melampiaskan kedongkolan.

Jagalah diri saat marah dari kalimat yang tidak bisa kembali, karena berapa banyak kalimat yang mengatakan kepada pemiliknya “Tinggalkan saya”, dan janganlah kamu wahai amir menjadikan ucapanmu main-main di dalam sangsi maupun pemaafan, dan jangan kamu melampaui di dalam sangsimu –dengan aniaya dan hawa nafsu- apa yang telah Allah tetapkan batasannya bagimu. karena “kedzaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat”.

Maka hendaklah kamu wahai saudaraku bersikap lembut di dalam urusanmu seluruhnya termasuk di dalam pemberian sangsi. Allah ta'ala berfirman: {Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu} [Ali Imran: 159].

Dan Rasulullah (shallallahu ‘alayhi wa sallam) berkata: “Barangsiapa diberikan bagiannya dari sikap lembut, maka ia telah diberikan baginya dari kebaikan, dan barangsiapa dihalangi (dari) bagiannya dari sikap lembut, maka ia telah dihalangi (dari) bagiannya dari kebaikan)”.

Dan beliau (shallallahu ‘alayhi wa sallam) berkata: “Sesungguhnya dien ini adalah kokoh; maka masuklah di dalamnya dengan lembut”.

[24] Ketahuilah bahwa ikhwanmu mendengar dan taat karena menginginkan apa yang ada di sisi Allah;

di mana sikap komitmen mereka itu adalah dorongan syar’iy akhlaqiy lebih dari sekedar rasa takut terhadap kekuasaan; maka dari itu janganlah kamu memberi pelajaran kecuali kepada orang yang kamu anggap memiliki dien yang bisa menerimanya, adapun orang-orang yang kamu anggap bahwa diennya tidak membuat dia jera maka jangan sekali-kali kamu memberinya hukuman, akan tetapi bersikap lembutlah kepadanya dan jinakanlah hatinya, karena orang yang paling berhak memberikan maaf adalah orang yang paling mampu memberikan hukuman, dan orang yang paling kurang akal dan pertimbangannya adalah orang yang mendzalimi orang yang di bawahnya, maka berikanlah keadilan kepada Allah dan berikanlah keadilan kepada manusia dari dirimu, keluargamu dan dari orang yang kamu cintai dari kalangan ikhwanmu dan rakyatmu. Dan bila kamu tidak melakukannya, maka kamu berbuat dzalim, dan barangsiapa dzalim kepada hamba-hamba Allah, maka Allahlah seterunya, dan barangsiapa yang Allah seterunya maka ia telah menancapkan peperangan terhadap-Nya sampai ia taubat dan mencabut diri.

Maka hindarilah doa orang yang didzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya itu dengan Allah, dan sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka baginya. Dan hendaklah dari waktumu ada satu saat di siang hari yang di dalamnya kamu berpikir apakah kamu telah mendzalimi orang atau di sana ada orang yang didzalimi yang wajib kamu tolong? Dan barangsiapa menginginkan penyegeraan murka Allah, maka silahkan berbuat dzalim!

Kuasailah ikhwanmu dan manusia dengan ihsan (berbuat baik), tentu kamu bisa mengikat hati mereka, karena kesinambungan mahabbah itu adalah dengan ihsan, dan lenyapnya mahabbah itu adalah dengan sikap kasar. Santunlah kepada manusia tentu tulus pula kecintaan mereka kepadamu dan pasti kamu raih penghargaan dari mereka, karena sikap santun dari orang kuat itu adalah tawadlu.

Adalah Umar ibnu Abdil Aziz sangat lemah lembut kepada masyarakat, di mana bila ia menginginkan suatu hal dari urusan Allah (dan) ia mengira manusia kurang menyukainya, maka ia menunggu sampai datang apa yang disukai masyarakat kemudian ia mengeluarkannya bersamanya. Dan telah ada ucapan darinya: (Sesungguhnya Allah mencela khamr dua kali dalam Al-Qur’an dan mengharamkannya pada kali ketiganya, dan saya khawatir membawa manusia kepada al-haq secara sekaligus kemudian mereka malah meninggalkannya, dan jadilah fitnah).

[26] Kenalilah kedudukan manusia dan ketahuilah macam-macam mereka, dan kedepankanlah seseorang karena dia itu:
a. Tergolong ahlul ilmi wal fadli, sedangkan nash-nash prihal keutamaan mereka sangatlah banyak.
b. Tergolong orang-orang yang berumur, karena (bukan tergolong kita orang yang tidak memuliakan orang yang tua di antara kita, dan tidak menyayangi orang yang kecil di antara kita, serta tidak mengenal bagi orang alim kita haknya).
c. Berasal dari keluarga bangsawan dan pemimpin, dan terutama ahlul ba'it Nabi (shallallahu 'alayhi wa sallam).

[27] Perhatikanlah keluarga-keluarga para syuhada dan tawanan dan kedepankanlah mereka terhadap yang lain, jenguklah orang yang sakit, dan jadilah kamu terhadap ikhwanmu sebagai pelayan bagi mereka; karena kamu ini hanyalah salah seorang dari mereka, namun bedanya adalah karena kamulah yang paling berat bebannya dan paling banyak perhitungannya di sisi Allah, maka beramallah untuk esok hari.

[28] Selektiflah dalam memilih utusanmu kepada kabilah-kabilah dan kelompok-kelompok bersenjata, dan begitu juga orang yang bertugas menguasai (wilayah) dan mencari dukungan masyarakat, karena sesungguhnya mereka adalah wajah Daulah di hadapan manusia, bila mereka baik maka baik pula kita, dan bila mereka berbuat buruk maka buruk pula kita.

Dan secara umum: “Utuslah orang yang bijaksana dan jangan mewasiatinya.”

[29] Wahai amir, hindarilah fanatisme-fanatisme kejahiliyahan; karena sesungguhnya bangunan kekuasaan yang kokoh itu tidak hancur kecuali dengan sebab fanatisme yang berlebihan.

Gunakanlah kecerdasan dan hilah (kecerdikan) dalam menghancurkan fanatisme itu dan bukan menggunakan kekuatan saja, di mana sesungguhnya Ahlul Iraq bangkit membangkang terhadap Abdul Malik ibnu Marwan bersama ibnul Asy’ats dan di tengah mereka banyak tabi’in pilihan seperti Sa’id ibnu Jubair dan yang lainnya, maka Al-Hajjaj mengalahkan mereka dalam perang “Dairul Jamajim” dengan hilah lebih dari sekedar dengan kekuatan. Dan ketahuilah bahwa termasuk siasat yang bijak bersegera menguasai mereka itu, terutama para tokoh.

[30] Hendaklah kalian serius, bersungguh-sungguh dan tinggi cita-cita, dan hindarilah sikap lemah, karena ia itu –demi Allah- adalah kendaraan yang paling hina; dan dikala kamu tersandung maka cobalah kembali; di mana sudah diketahui dari pengalaman bahwa tidak ada amaliyyat yang Allah berikan kemenangan di dalamnya kecuali ia itu pernah melalui berbagai ketersandungan yang banyak.

Saudara kalian,
Abū Hamzah al-Muhājir
1Ramadān 1428 H


Source: DABIQ 7

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ Oleh: Ibnul Jauzi Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya ada...