Tampilkan postingan dengan label al fatihin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al fatihin. Tampilkan semua postingan

7/14/2019

JAUHILAH PRASANGKA, PERKATAAN DUSTA


Jauhilah Prasangka,
Perkataan Paling Dusta
Akibat prasangka, orang baik dituduh, orang yang jujur didustakan, orang yang amanat dianggap khianat, orang suci dituduh berzina, dan orang yang terzalimi ditindas. Prasangka adalah salah satu pintu kezaliman yang menyusup dalam situasi paling sulit dihadapi seseorang di dalam hidupnya. Rabb Pemilik Kemuliaan memberikan peringatakan sekaligus memerintahkan kepada kita untuk mejauhinya. Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Itulah prasangka buruk. Ia memiliki banyak motif. Pertama, anggapan bahwa ia mengetahui apa yang ada di dalam hati, dan asumsi bahwa ia mampu melongok bersitan hati. Padahal, syariat yang hanif telah mengajarkan kepada kita agar tidak menghukumi manusia melalui sesuatu yang tersembunyi (hati). Karena hanya Allah-lah yang mampu melongok hati dan tidak memperkenankan kita untuk memeriksa dan menilai sesuatu yang ada di dalamnya.

Akhi Mujahid,
Sesungguhnya menghukumi sesuatu yang ada di dalam hati manusia, akan mendorong seseorang untuk berprasangka buruk kepada mereka, sehingga seseorang melihat kesalahan yang tidak disengaja sebagai rekayasa, bahkan dituduh telah direncanakan jauh-jauh hari, mendengar perkataan yang mengandung banyak kemungkinan sebagai sebuah celaan, melihat senyuman sebagai hinaan, canda dianggap songong, nasehat dianggap tuduhan, dan menolong dianggap pelecehan.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anh, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling menguntit keburukan yang lain dan jangan pula saling mengintai, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi dan jangan saling membenci, tetapi jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Di dalam hadits di atas terdapat peringatan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang sikap mengorek dan mengintai keburukan orang lain, karena keduanya akan menghasilkan analisa sebagian, tidak utuh, yang terkadang kebenarannya tersamarkan. Begitu juga sikap dengki yang merupakan salah satu pintu masuknya prasangka buruk terhadap orang lain. Ia menjadi provokatornya. Tidak ada legalisasi yang berisi harapan untuk hilangnya suatu nikmat dari saudaranya, melainkan unjug-ujungnya dia akan melakukan begini, berkata begitu, dan berniat demikian, yang dengan itu dia telah melegalkan sikap dengkinya dan tidak akan pernah menemukan pembela yang paling tepat untuk itu, selain sikap berburuk sangka. Demikian juga sikap benci. Jika seseorang membenci orang lain, niscaya dia akan berburuk sangka kepadanya.
Yang selayaknya dilakukan oleh seorang muslim adalah sibuk berzikir kepada Allah ketimbang harus sibuk dengan ‘aurat’ orang lain dan mengintainya, beraksi untuk mengobati penyakit pada dirinya, daripada berupaya ‘mengobati’ penyakit orang lain. Karena, siapa yang sibuk dengan dirinya, niscaya tidak akan ada kesempatan baginya untuk sibuk dengan urusan orang lain.
Hal ini bukan berarti berhenti dari amar makruf nahyi munkar, tetapi maksudnya hendaklah seseorang menjauhi sikap buruk sangka, jika dia tidak memiliki bukti nyata, jelas, akurat dan berbaik sangka terhadap sesuatu yang masih samar.
Salah seorang di antara mereka berkata, “Jika ada sesuatu yang tidak kamu sukai dari saudaramu sampai kepadamu, maka carikanlah uzur (alasan) untuk dirinya. Jika kamu tidak menemukan alasan baginya, maka katakanlah pada dirimu sendiri, ‘Barang kali saudaraku memiliki alasan yang tidak aku ketahui’.”
Allah ta’ala berfirman, “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm: 28)

Akhi Mujahid,
Sesungguhnya setan berkepentingan dengan buruk sangka. Ia adalah bahan bakar yang akan digunakan untuk menanamkan permusuhan di antara para ikhwah, dan hampir-hampir tidak pernah futur (putus asa) untuk menciptakan pertikaian di antara mereka. Hal terpenting yang bisa dijalankan untuk memangkas jalan setan dalam bab ini adalah berbaik sangka kepada para ikhwah dan kaum muslimin.

Mereka Berkata tentang Buruk Sangka
“Barangsiapa memvonis buruk orang lain hanya berdasarkan prasangka, niscaya setan akan menyeretnya untuk menghinakannya, tidak menunaikan haknya, enggan menghormatinya dan lidah ceroboh terhadap kehormatannya. Semua hal tersebut adalah hal-hal yang membinasakan. Tidak ada sesuatu yang mampu membuat hatinya rileks dan dirinya senang selain berbaik sangka, dengannya dia akan terlepas dari gangguan perasaan gelisah yang mengganggu psikis, mengotori hati dan membuat tubuh kelelahan.”
“Kemudian, di antara bencana berburuk sangka adalah hal itu akan membawa pelakunya untuk menuduh yang lain dan berbaik sangka hanya kepada diri sendiri. Ini termasuk justifikasi diri yang dilarang oleh Allah di dalam Kitab-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (An-Najm: 32)
Di antara beberapa faktor agar seorang muslim berbaik sangka kepada orang lain, sebagian mereka menuturkan beberapa hal, di antara yang paling penting adalah:
Berbicara dengan sopan dan baik, senantiasa mengingat bencana dari buruk sangka, berdoa dan memelas kepada Allah agar selamat dari bencana ini, dan memposisikan diri sebagai orang lain. Jika masing-masing kita memposisikan diri dengan orang lain, ketika muncul perbuatan atau perkataan dari saudaranya, niscaya hal tersebut akan membawa pada sikap berbaik sangka kepada yang lain. Allah telah mengarahkan para hamba-Nya kepada makna ini, ketika Dia berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri.” (An-Nur: 12)

Source; AL FATIHIN 11

Upaya Para Nabi Menjaga Agama Keluarga Mereka


Upaya Para Nabi
Menjaga Agama Keluarga Mereka

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 
‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(Luqman: 13)
Segala puji bagi Allah semata, shalawat serta salam untuk Nabi Pamungkas shallallahu ‘alaihi wasallam, amma ba’du:

Para nabi tiada henti sepanjang siang-malam berdakwah mengajak kepada agama Allah , secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka, demi menunaikan amanat tablig (penyiaran agama) yang telah Allah kuasakan kepada mereka. Tiada seorang pun nabi melainkan dia berkata kaumnya, “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu,” (Al-A’raaf: 68). Tak ketinggalan, keluarga mereka menjadi bagian dari dakwah mereka. Sesungguhnya para nabi senantiasa berupaya untuk hal itu sepanjang hidup mereka. Bahkan tatkala kematian menghampiri mereka, wasiat-wasiat yang mereka berikan bukanlah wasiat bagi waris, pemutusan silaturahim, atau perintah mencari dunia yang hina lagi fana. Mustahil mereka seperti itu. Akan tetapi wasiatnya adalah wasiat agar berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan memberangus kesyirikan. Melalui hal itu, terdapat keselamatan dari neraka dan masuk ke dalam surga Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Berapa banyak manusia yang lebih mengutamakan kehidupan fana ketimbang kehidupan kekal? Apakah di dalam wasiat orang yang berwasiat terdapat bagian dari wasiat-wasiat para nabi untuk anak-anak mereka? Apakah para ayah sudah membaca firman Allah Ta’ala, “Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim (Islam), melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh, Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab, “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.” Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Al-Baqarah: 130-132)
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memeluk Islam dan berserah diri kepada Allah Rabb semesta alam dengan segenap hati dan anggota badannya. Sang Nabi adalah pemimpin orang-orang bertauhid. Di antara petunjuknya, dia mewasiatkan anak-anaknya agar jangan mati kecuali mati di atas Islam yang berarti berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para penganutnya. Lalu perhatikanlah upaya keturunan Nabi Ibrahim –dari golongan para nabi– untuk menjaga wasiat tersebut. Di antara keturunannya adalah sang cucu Nabi Allah Ya’qub bin Ishaq ‘alaihis salam, seorang nabi yang selalu mewasiatkan anak-anaknya dengan wasiat sang kakek, yaitu Ibrahim ‘alaihis salam.
Tatkala kematian menjemput, Nabi Ya’qub bertanya kepada mereka (keturunannya) tentang peribadatan mereka dan siapa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, saat Allah mewafatkan dia. Jawaban anak-anaknya adalah mereka orang-orang bertauhid yang mengarahkan ibadah hanya kepada Allah semata. Di manakah sikap demikian di kalangan para ayah dan anak-anak pada hari ini? Di manakah sikap meneladani petunjuk para nabi yang suci? Tidak mengherankan, bahwa Sang Jujur Nabi Yusuf ‘alaihis salam bin Ya’qub ‘alaihis salam berada di atas jalan agung itu. Dia berkata mendakwahkan para penghuni penjara, “Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)
Dia menetapkan bahwa mengarahkan tindak tahakum (berhukum) kepada selain Allah adalah kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu, dakwah para nabi berpengaruh di Mesir dan menyebar ke berbagai ruang lingkup yang luas pada masa Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Hal demikian bisa menjadi tafsir dari intimidasi Firaun di Mesir kepada anak-cucu Ya’qub setelah Firaun mencabut otoritas hukum dari para raja yang merupakan rakyat kaum muslimin Bani Israil. Ketetapan hukum Firaun berdiri di atas prinsip pagan (berhala) yang bertentangan dengan tauhid Uluhiyah dan Rububiyah. Sedangkan syariat para nabi berdiri di atas prinsip yang menentang ke-rububiyah-an para thaghut dan ketetapan hukum mereka. Inilah akidah yang senantiasa dijaga Nabi Allah Ibrahim dan Nabi Ya’qub, untuk diajarkan kepada anak-anak mereka dan diwasiatkan di saat kematian mereka.
Apabila kita menelaah ayat-ayat Al-Quran yang mengandung petunjuk, cahaya, dan penawar bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada, dari berbagai wasiat agung itu, maka kita akan mendapati satu wasiat Luqman Al-Hakim kepada putranya. Maka cermatilah ia, ambillah pelajaran dan ‘ibrah (teladan, contoh). Allah ta’ala berfirman, “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Luqman: 13)
Wasiat tersebut merupakan wasiat yang sangat gamblang dari Sang Bapak Bijaksana kepada putranya dalam menerangkan syirik. Di dalamnya terdapat larangan menyekutukan Allah, karena syirik merupakan seburuk-buruknya dosa dan sebesar-besarnya kezaliman. Bagaimana bisa syirik bukan kezaliman terhadap hak Allah c, sementara Allah-lah yang menciptakan makhluk, mengurusi segala urusan mereka, memberi rezeki kepada mereka, menghidupkan dan mematikan mereka, dan kepada-Nyalah mereka dikembalikan. Setelah semua ini, lalu mereka menyekutukan-Nya, beribadah kepada para thaghut hukum, perundang-undangan, dan pengawasan. Mereka menyembah kuburan dan berhala, serta memalingkan segala bentuk peribadatan kepada mereka (para thaghut).
Berapa banyak ayah hari ini yang senantiasa menjaga keselamatan anak-anak mereka dari syirik dan dampak buruknya, serta berkomitmen kepada jamaah dan Darul Islam? Dan berapa banyak dari mereka selalu menjaga keselamatan anak-anak mereka dari pembunuhan –menurut klaim mereka–lalu mewanti-wanti mereka dari jihad, tidak berusaha menjaga dampak persoalan mereka dan menimpakan kebinasaan kepada mereka, menggiring mereka menuju Darul Kufur dan membiarkan agama mereka rusak?
Apakah para ayah yang membaca Al-Quran juga merenungkan wasiat-wasiat tersebut, dan memasukkannya ke dalam wasiat mereka, ataukah lembaran-lembaran wasiat tersebut kosong dari ilmu mulia yang diwariskan secara turun-temurun itu? Apakah para ayah hanya fokus mengumpulkan harta, membangun rumah-rumah, mendirikan bisnis, membangun taman-taman dan istana-istana, kemudian menuliskan wasiat untuk anak-anak mereka agar menjaga semua rongsokan itu, ataukah menuliskan wasiat-wasiat para nabi ulul-‘azmi (bertekad kuat) yang mulia untuk mereka?
Sejatinya kebanyakan manusia menjerumuskan anak-anak dan istrinya ke dalam kezaliman. Dia tidak menunaikan hak bagi mereka yang berada di bawah perlindungannya; hak penyampai tablig (penyiaran agama) yang dilakoni para rasul kepada para istri dan keturunan mereka. Sesungguhnya kezaliman paling hebat terhadap istri dan keturunan tidak terletak pada pengabaian terhadap hak-hak keduniaan mereka. Namun sejatinya kezaliman paling hebat terkait hak mereka adalah kita membiarkan mereka tidak mengetahui urusan agama mereka, tidak mendakwahkan mereka untuk mengetahui dan memahami apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka dalam rukun Islam pertama. Yaitu rukun teragung dua kalimat syahadat berisi keimanan kepada Allah, mengesakan-Nya, kafir kepada para thaghut, serta keimanan kepada kenabian Muhammad , mengikuti syariat beliau, tidak mendahulukan syariat-syariat lain daripada syariat yang dibawa beliau, serta apa-apa yang beliau bawa berupa cahaya dan hidayah dari sisi Allah.
Bahkan parahnya, para ayah sendiri tidak mengetahui urusan agama mereka, tidak mau menyingkirkan kebodohan dari diri mereka di bawah naungan cahaya syariat dan otoritas para pengusung kebenaran. Kebanyakan dari para ayah menghalangi anak-anak mereka dari kebenaran dan mengikuti petunjuk, padahal keluarganya telah tercerahkan hidayah dan menyerunya kepada kebaikan. Barangsiapa yang keadaannya seperti demikian, maka sesungguhnya urusannya berujung pada kerugian dan kebinasaan. Keberuntungan dan kabar gembira bukan milik orang yang telinga tuli dari mendengarkan tauhid, tidak mengkafirkan orang musyrik dan pembuat tandingan bagi Allah. Sesungguhnya kabar gembira dan hidayah hanya milik orang yang Allah berfirman mengenai mereka, “Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah; bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada para hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar: 17-18)
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala memuji para nabi-Nya dengan banyak atribut. Semua ini agar kita meneladani mereka dan memiliki akhlak seperti akhlak mereka. Di antara mereka adalah Nabi Ismail ‘alaihis salam yang diri dan dakwahnya kepada keluarganya dipuji oleh Allah Ta’ala. Di dalam sosoknya, Anda menemukan citra seorang ayah yang peduli dan seorang nabi yang menyeru keluarganya, sehingga berupaya agar keluarganya ikut bersamanya menjadi penghuni rumah di surga. Dia senantiasa berupaya mengajak mereka untuk menunaikan shalat dan zakat yang merupakan rukun-rukun teragung setelah rukun dua kalimat syahadat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 54-55)
Hendaknya setiap ayah meninjau kembali dan merenungkan apa yang telah dipersembahkannya kepada keluarganya berupa nasihat untuk berkomitmen kepada tauhid, kafir kepada thaghut, dan melakoni ketaatan kepada Allah c, guna meneladani sejarah para nabi yang mendapat petunjuk. Selamat kepada setiap ayah bertauhid yang memimpin keluarganya menuju sikap istikamah dan hidayah, serta tidak membiarkan keluarganya tersesat dan sia-sia. Sungguh jauh perbedaan orang yang masuk neraka, merugikan dirinya sendiri, dan sendirian di neraka tanpa keluarga, dengan orang yang masuk surga bersama istri serta keturunannya, dan para malaikat memasukkan mereka dari setiap pintu dengan penuh keselamatan. Para malaikat mengucapkan selamat kepada mereka atas apa yang telah mereka perbuat berupa kesabaran dan keteguhan di atas perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta keberkahan untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, para anggota keluarga dan sahabat beliau.

Source: AL FATIHIN 11

NASEHAT UNTUK AKHI MUJAHID


Akhi Mujahid
Barangsiapa Merendahkan Diri kepada Allah, Niscaya Dia Mengangkat Kedudukannya

Sifat baik para kesatria tidak akan sempurna hingga mereka menghiasinya dengan sikap tawadhu yang merupakan ‘pintu gerbang’ menuju hati. Pintu tersebut tidak mungkin dilalui kecuali oleh orang yang memiliki sifat ini. Jarang sekali engkau mendapati seseorang yang akrab dengan manusia, tetapi tidak berakhlak dengannya. Manusia sepakat bahwa sifat ini adalah baik, dan disenangi oleh jiwa.
Para pakar bahasa mendefinisikan “tawadhu” sebagai “merendahkan diri”. Diambil dari pemahaman “bumi itu rendah”, maknanya ia merendah kepada yang berikutnya. Secara terminologi (istilah), artinya sikap rendah diri dan tidak teperdaya dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” (Al-Furqan: 63)
Ibnu Katsir menjelaskan, yakni berjalan dengan sakinah (ketenangan) dan sopan, tanpa sikap arogan dan menyombongkan diri. Demikianlah sikap tawadhu. Pemiliknya memiliki kedudukan tinggi di hadapan manusia jika dia merendahkan diri kepada mereka. Dia juga akan menjadi mulia apabila dia melapangkan dirinya kepada mereka. Ibarat bumi datar melandai yang dipenuhi air, akan terasa nikmat penuh berkah dan kebaikan melimpah. Pun demikian dengan jiwa yang tawadhu, ia akan menikmati sambutan dan keakraban dari semua pihak. 

Akhi Mujahid,
Bagaimana bisa, jika seorang manusia diciptakan Allah dari tanah dan dimuliakan dengan mengemban peribadatan, lalu dia melampaui batasan-batasan yang disyariatkan Allah, serta bersikap arogan dan memandang orang lain dengan sebelah mata. Padahal di sisi Allah, dia lebih hina. Maka, selamat bagi kalian wahai orang-orang tawadhu yang disebut “Allah cinta kepada mereka dan mereka juga mencintai Allah,” (Al-Maa`idah: 54). Dan celakalah bagi mereka yang dikatakan “Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri,” (Az-Zumar: 72)
Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,” (Al-Maa`idah: 54)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman,” (Asy-Syu’ara: 215)
Manusia yang paling banyak mengamalkan sifat mulia ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  . Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  mengendarai keledai, mengenakan pakaian wol, makan, tidur, dan duduk beralaskan tikar di tanah. Beliau juga memelihara kambing, menambal sandalnya, menjahit pakaiannya, bekerja membantu keluarga di rumah, memberi salam kepada anak-anak kecil, memenuhi undangan hamba sahaya untuk menikmati roti gandum, serta menggendong anak kecil yang diajak jalan-jalan kemana pun dia mau di Madinah. Inilah sifat tawadhu seorang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mulia. Beliaulah shallallahu ‘alaihi wasallam  pernah bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mewanti-wanti sikap takabur dan mencontohkan untuk kita tentang betapa buruk akibat dan kesudahan pelakunya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Ketika seseorang berjalan dengan sombong memakai pakaian indah maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dan ia berada di dalamnya sampai Hari Kiamat.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  juga menolak sikap berlebihan dalam memberi pujian dengan ucapan. Beliau justru lebih senang dipanggil dengan panggilan “‘abd” (hamba). Umar bin Al-Khattab berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Janganlah kalian berlebihan menyanjungku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam menyanjung putra Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka panggillah dengan hamba dan utusan Allah.’” (HR. Al-Bukhari) 

Akhi Mujahid,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyeru kepada sikap tawadhu, dan memberikan motivasi, karena hal ini memiliki banyak faedah. Diriwayatkan ‘Iyadh bin Hammar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim)
Allahu subhanahu menjelaskan kepada kita, keuntungan terbesar dari sikap tawadhu adalah pahala besar yang akan diperoleh oleh orang-orang tawadhu di negeri akhirat. Allah Ta’ala berfirman, “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)
Ibnu Katsir menerangkan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa negeri akhirat beserta segala kenikmatan abadinya yang takkan pernah beralih maupun lenyap. Allah menjadikannya untuk para hamba- Nya yang beriman lagi tawadhu. Orang-orang yang tidak menyombongkan diri di muka bumi, yakni bersikap superior di atas makhluk Allah, bersikap adigung dan arogan terhadap mereka.”

Source: AL FATIHIN 10

BALASLAH DENGAN BALASAN SETIMPAL


Maka Balaslah dengan
BALASAN SETIMPAL
 
US-led coalition admits use of white phosphorus in Mosul amid mounting criticism
Ketika musuh menyerang kaum wanita dan anak-anak yang saat ini dikatakan sebagai warga sipil, maka diperbolehkan juga menyerang kaum wanita dan anak-anak musuh yang disebut sebagai warga sipil. Sebagai pengamalan prinsip resiprokal (konsep membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama/ ). Allahu Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl: 126)
Persoalan ini sangat jelas sejelas matahari di siang bolong; seorang muslim dibolehkan membalas dengan balasan yang sama. Maka diperbolehkan membunuh anak-anak, wanita, dan orang-orang tua mereka, sebagaimana mereka membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua kita, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala: “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (Al-Baqarah: 194)
Sebagaimana dikatakan Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu,” (An-Nahl: 126) Dia mengatakan, “Apabila musuh mengambil dan membunuh kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin, maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk membalasnya dengan perbuatan sama, untuk mencegahnya.”
Dan ditetapkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang membalas perbuatan yang sama, dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu’anh : “Sekelompok manusia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka masuk Islam dan mengeluhkan suatu penyakit kepada Rasulullah. Mereka meminta air susu kepada Rasulullah. Beliau berkata kepada mereka, ‘Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyarankan kalian untuk mendatangi unta Rasulullah.’ Beliau memerintahkan mereka untuk meminum air seni dan susunya. Mereka pun kemudian mendatangi unta Rasulullah, lalu meminum air seni dan susunya hingga gemuk dan sehat. Namun mereka malah membunuh sang penggembala, mencongkel kedua matanya, dan merampas unta-unta. Datanglah kabar tersebut, kemudian Rasulullah mengutus pasukan untuk memburu mereka. Tatkala matahari meninggi, mereka pun didatangkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai tawanan. Beliau memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka, serta tidak menghentikan penghukuman kepada mereka, dan mencongkel mata mereka. Lalu mereka dibuang di Al-Harrah, sebuah kawasan berbatu hitam di Madinah yang terkenal. Mereka dibuang di kawasan tersebut karena ia dekat dengan tempat di mana mereka membunuh sang penggembala, dan cuaca saat itu sangat panas.”
jika demikian halnya kewajiban kisas di antara kaum muslimin, serta menunaikan prinsip perbuatan serupa dan sebanding di dalamnya, maka hal ini lebih utama lagi bagi orang-orang kafir. Kita harus membalas mereka sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan kepada kita, dan kita perlakukan mereka seperti mereka memperlakukan kita.
Syariat telah menetapkan satu kaidah membalas perbuatan serupa dalam rangka penunaian hak-hak, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu,” (Al-Baqarah: 194) dan firman-Nya: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu,” (An-Nahl: 126)
Ayat-ayat tersebut bersifat umum dalam segala hal. Ayat tersebut tidak khusus diperuntukkan bagi konteks asbabunnuzulnya (peristiwa, perkataan, atau perbuatan yang terjadi pada masa tertentu yang melatarbelakangi atau menjadi penyebab turunnya ayat Al-Quran, Penj.). Ini mengingat, ada kaidah syar’i yang menyatakan bahwa al-’ibrah bi ‘umum al-lafzh la bi khusush as-sabab (hukum diambil berdasarkan keumuman lafazh bukan karena kekhususan sebab). Akan tetapi, dalam kondisi mereka memperkosa wanita-wanita kita, apakah kita boleh memperkosa wanita mereka? Tidak boleh memperkosa wanita mereka, karena hal ini diharamkan berdasarkan nau’-nya (esensi/ jenis perbuatan). Tidak mungkin kita melakukan hal itu, karena keharamannya bukan berdasarkan prinsip menghormati hak orang lain, namun haram berdasarkan nau’-nya. Tapi apabila wanita mereka berposisi sebagai sabiyah (hamba sahaya), maka dia adalah kepemilikan penuh (al-milk al-yamin).
Bila kalajengking datang, kita pun kembali
Dan sandal pun telah siap untuk beraksi

Source: AL FATIHIN 10


 the execution of the captive Jordanian pilot
 


Smoke is seen following an airstrike on the western frontline of Raqqa on July 17, 2017, during an offensive by the U.S.-backed Syrian Democratic Forces
 
An explosion results from U.S.-led airstrikes on Raqqa

US-led coalition warplanes 'shower IS' Syria bastion Raqqa with white phosphorus'
Digital Journal — US-led forces apparently use white phosphorus in anti-IS fight
The US-Led Coalition Burns Raqqa with White Phosphorus

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ Oleh: Ibnul Jauzi Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya ada...