Tampilkan postingan dengan label demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demokrasi. Tampilkan semua postingan

7/12/2019

SUPAYA JELAS JALAN ORANG YANG BERDOSA


Supaya Jelas Jalan
ORANG YANG BERDOSA
(Bagian 1 )
Oleh: Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi


Segala puji bagi Allah kita memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta perlindungan dari keburukan diri kita dan perbuatan-perbuatan kita, dan aku bersaksi bahwa tiada Ilah (sesembahan yang hak) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
Allah ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang beriman maukan aku tunjukkan kepada kalian perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang pedih, kalian beriman kepad Allah dan rasul-ya, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian, yang demkian itu lebih bak bagi kalian jika kalian mengetahui, Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surge yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan tempat tinggal yang bagus di surge Aden, ituah kemenangan yang nyata, dan hal lainnya yang kalian senangi, yaitu pertolongan dari Alllah dan kemenangan yang dekat.” (Ash-Shaff: 10-13)
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Madarij-nya, “Orang-orang kafir menjajah negeri Islam merupakan kadar atau ketentuan Allah, apakah pantas bagi kaum muslimin pasrah dengan takdir dan tidak melawannya dengan takdir semisalnya yaitu Jihad yang dengannya mereka menahan serangan kuffar (takdir Allah) dengan takdir lainnya (jihad)?”
Ketahuilah wahai kaum muslimin, jihad di jalan Allah pada hari ini adalah penawar untuk banyak penyakit yang dikeluhkan oleh umat, tidak ada sesuatu apa pun setelah tauhid yang mengimbangi manfaat jihad untuk negeri dan umat. Ia merupakan jalan yang dijamin Allah hidayah bagi para penempuhnya, sebagaimana firman Allah, “Orang-orang yang berjihad di jalan kami, kami akan tunjukkan jalan kami.” (Al-‘Ankabut: 69)
Oleh karena itu, dulu para salaf jika menghadapi masalah dalam perkara agama, maka mereka merujuk kepada ahlu tsughur (mujahid) dan jihad, berharap mendapatkan kebenaran dari mereka. Jihad merupakan salah satu pintu surga, dengannya Allah menghilangkan rasa gundah dan gelisah sebagaimana dalam hadits, “Berjihadlah sungguh itu adalah salah satu pintu surga, dengannya Allah menghilangkan rasa gundah dan gelisah.” Dengannya, tujuan-tujuan agama terjaga pun kehormatan, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Ta’ala, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah, dan membela orang-orang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.” (An Nisaa`: 75)
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,” (Al-‘Ankabut: 6). Maksudnya adalah kebaikan yang dihasilkan dari jihad kembalinya ke diri kita sendiri, Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dan jihad kita. Ia juga merupakan pintu penyaringan yang besar, dengannya bisa dibedakan antara orang mukmin dan munafik yang ingin dipuji dengan hal yang tidak dia lakukan.
Jihad bisa dibilang, “terjemahan” dari tauhid. Ia adalah bukti kejujuran muwahid. Barangsiapa tidak pernah menempuh jihad dan merasakan ujiannya, maka dia tak layak menduduki posisi terdepan dalam kepemimpinan dan dominansi, meskipun punya banyak ilmu dan gagasan baik. Jika pun dia mendudukinya, maka sama saja dia berpura-pura menampakkan hal yang sejatinya tak ada pada dirinya, dia bak orang yang mengenakan pakaian palsu.
Betapa umat membutuhkan timbangan dan pelita pada zaman merebaknya para munafik, para ‘pendaki’ dan para ‘penjual’. Allah Ta’ala berfiman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar,” (Ali ‘Iman: 142) dan firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman,” (Al-Anfal: 74). Allah berfirman juga, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan,” (At-Taubah: 20). Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul- Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)
Maka Allah Ta’ala menganggap jihad mereka sebagai bukti kejujuran iman dan tauhid mereka. Mereka adalah mukmin sejati –para muwahid sejati— merekalah orang-orang jujur lagi beruntung dunia-akhirat.
Adapun orang-orang yang tidak berjihad dan tidak berangkat, orang yang hatinya selalu merasa takut setiap kali penyeru jihad memanggil, atau setiap kali dibukakan di hadapan umat pintu untuk berkorban dan berjuang, maka mereka adalah orang-orang dengan iman hanya menjadi dakwaan dan klaim mereka palsu, Allah Ta’ala berfirman, “ Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At- Taubah: 45-46)
Allah Ta’ala menganggap tidak ikut sertanya mereka berjihad bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai bukti kemunafikan dan penegasian iman. Sebagaimana Allah menganggap ketiadaan i’dad (persiapan) dan pengambilan faktor-faktor jihad sebagai bukti ketidakjujuran dan tidak adanya keinginan untuk berangkat jihad di jalan Allah.
Setiap klaim dan pengakuan meniscayakan bukti dan penjelasan. Mengklaim dengan lisan tanpa adanya amalan tidaklah cukup, lalu apa gerangan dengan yang menggembosi umat agar tidak berjihad bahkan mencela mujahidin lantaran jihad mereka?!
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab Al-‘Ubudiyah, “Allah menjadikan orang-orang yang dicintai-Nya memiliki dua tanda:
Pertama: Mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam;
Kedua: Berjihad di jalan-Nya.
Demikianlah, lantaran jihad hakikatnya adalah berusaha maksimal meraih apa yang dicintai Allah berupa keimanan, amal saleh, dan menampik hal-hal yang dibenci-Nya berupa kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Seandainya rakyat muslim mempersembahkan sedikit bagian saja dari bagian yang mereka persembahkan di jalan thaghut untuk jalan jihad di jalan Allah, maka niscaya keadaan akan semakin membaik, urusan mereka akan berbeda dari apa yang menimpa mereka sekarang ini berupa kehinaan, kennistaan, dan penghambaan kepada para thaghut.
Lalu bagaimana lagi jika rakyat ini mengetahui hakikat kabar tentang jihad di Irak??
Sungguh, rancangan dan proyek jihad berjalan dan mengaliri “Negeri Dua Aliran Sungai” (Bilad Ar-Rafidain/Irak). Buah manisnya berwujud perbaikan yang mengguncang singgasana kekafiran di daerah itu. Mereka pun menjalin ‘ikatan’ mereka, menyiapkan konspirasi, mendatangkan kebencian dan kebiadaban mereka ke bumi Fallujah yang baik.
Lalu apa yang diperoleh penjajah AS dan para anteknya dari kalangan Rafidhah dan selainnya, dari penindasan dan penjajahan mereka terhadap Darul Islam yang aman??
Skandal mereka kini terungkap dan kedustaan mereka tersingkap di hadapan dunia. Segenap argumentasi dan klaim mereka curahkan demi merealisasikan keamanan dan kenyamanan abgi pemerintahan murtad Irak. 


PROYEK MEREKA PALING UTAMA SEKARANG ADALAH MENYUKSESKAN KEDUSTAAN TERBESAR AS BERNAMA “DEMOKRASI”

AS mempermainkan akal rakyat melalui kedustaan “demokrasi sipil” dan menghipnotis mereka bahwa kebahagiaan dan kesenangan tergadai dengan manhaj manusia yang hina ini. Selanjutnya, pemerintahan kafir AS memutuskan untuk menginvasi Irak dan Afghanistan, karena ia mengklaim sebagai penjaga demokrasi dunia dan pengawal utamanya.
Maka didirikanlah pemerintahan Alawiyah di Irak demi menjalankan tujuan tersebut, yaitu mendistorsi dan menipu akal rakyat Irak dan dunia, serta mengilusi AS serius dalam mendirikan negara independen Irak. Dengan itu, Salibis membungkus semua tujuannya dalam rangka memapankan negara Israel, serta menyembunyikan kerakusan dan ketamakannya dalam meraup kekayaan dan sumber daya alam di Irak.
Termasuk hal terbesar yang menjadikan Islam ini tetap jernih dan murni adalah identitas dan akseptabilitas agama ini, sebagaimana ia diterima dengan segenap perintahnya, batasannya, dan pondasinya. Jauh dari penyelewengan dan distorsi, jauh dari sikap ghuluw (ekstrem), eksesif (ifrath/ melampaui batas), dan pengabaian (tafrith). Semua hal ini ditegaskan di dalam banyak ayat Al- Quran dan hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (Hud: 112). Allah berfirman, “Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya,” (Yunus: 109)
Allah berfirman juga, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu,” (Al- Maa`idah: 49).
Allah berfirman, “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus,” (Az-Zukhruf: 43). Kalam- Nya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya),” (Al- A’raaf: 3). Allah berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya,” (Al- An’am: 53)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” Beliau bersabda lagi, “…barangsiapa yang hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat hidayah setelahku. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap bidah adalah sesat.”
Demokrasi datang dan berkata kepada kita, “Dalam sistem demokrasi, rakyat adalah sumber hukum dan rujukan. Rakyat menjadi kata pemutus di setiap perkara. Substansi sistem ini menyatakan, ‘Tidak boleh menolak keputusannya, keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Hukum kembali kepadanya, kehendaknya adalah sakral, pilihannya mengikat, pendapatnya diprioritaskan dan dihormati. Hukumnya bijaksana lagi adil. Barangsiapa menjunjungnya maka akan dijunjung, dan barangsiapa merendahkannya, maka dia akan direndahkan. Apa yang dihalalkan rakyat, maka ia adalah halal. Dan apa yang diharamkan rakyat, maka ia adalah haram. UU dan sistem yang diinginkan rakyat, maka itulah yang dijalankan. Selainnya tidaklah bernilai, tidak suci, dan tidak berharga, meskipun itu adalah agama yang lurus dan syariat bijaksana dari Rabb Semesta Alam.
Semboyan ini –maksudku adalah hukum rakyat untuk rakyat— adalah inti dari demokrasi, esensi, kutub, dan poros yang mana setiap persoalan dan masalah bergerak mengelilinginya. Ia tidak akan eksis tanpanya. Maka inilah “Agama Demokrasi” yang siang-malam didengungkan. Inilah yang ditetapkan para teoretikus, pemikir, dan penyerunya di hadapan dunia. Inilah yang kita lihat dan saksikan dalam realita.
**********

Demokrasi, dengan berbagai divergensi (cabang) dan interpretasinya, berdiri di atas beberapa prinsip dan pondasi, kami ringkas ke dalam sejumlah poin berikut:
Pertama, demokrasi berdiri di atas prinsip bahwa rakyat adalah sumber kekuasaan yang mencakup ke dalamnya adalah “kekuasaan legislatif”, rakyat yang mewakili mereka dalam tugas legislasi dan pembuatan UU. Dengan kata lain, pembuat UU yang ditaati dalam demokrasi adalah manusia, dan bukan Allah.

Maknanya, yang dituhankan lagi diibadati dan ditaati dalam ranah legislasi (pembuatan UU), penghalalan dan pengharaman adalah manusia lagi makhluk, dan bukan Allah Ta’ala. Inilah inti kekafiran, kesyirikan, dan kesesatan yang bertentangan dengan ushuluddin (pokok-pokok agama) dan tauhid. Sebagaimana demokrasi juga mencakup partisipasi manusia yang lemah dan bodoh membersamai Allah dalam persoalan Uluhiyah paling khusus milik Allah, yaitu membuat hukum dan UU. Allah Ta’ala berfirman, “Keputusan (hukum) hanyalah milik Allah, dan Dia telah memerintahkan agar tidak kalian tidak menyembah selain Dia,” (Yusuf: 40) Allah berfirman, “Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum,” (Al-Kahfi: 26). Dia juga berfirman, “Tentang apa pun kalian berselisih maka keputusannya terserah pada Allah,” (Asy-Syura: 10), bukan kepada rakyat, jumhur, dan suara mayoritas. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum yang mereka kehendaki daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maa`idah: 50). Dan Allah berfirman, “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci,” (Al-An’aam: 114).

Allah berfirman, “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21). Allah menamai orang-orang yang membuat UU tanpa berdasarkan kekuasaan Allah sebagai sekutu dan tandingan. 

Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhatihatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian yang telah diturunkan Allah kepadamu,” (Al-Maa`idah: 49). Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb (sesembahan) selain Allah,” (At-Taubah: 3) Dalam hadits diriwayatkan dari Addi bin Hatim, tatkala dia mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wasallam –dia seorang Nasrani waktu itu— saat itu dia mendengar beliau membaca ayat, “Mereka menjadikan orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb (sesembahan) selain Allah,” dia berkata, ‘Aku katakan kepada beliau, kami tidaklah menyembah mereka (maksudnya kami tidak menyembah mereka dengan cara mempersembahkan doa, sujud, rukuk, dan lain sebagainya, karena dia menyangka bahwa ibadah sebatas ritual-ritual tadi saja). Maka beliau bersabda, ‘Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu kalian pun mengharamkannya. Dan mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, lalu kalian pun menghalalkannya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda lagi, “Itulah peribadatan mereka.’” 

Semoga Allah merahmatii Sayyid Quthb yang pernah berkata, “Sesungguhnya manusia di seluruh tatanan buatan manusia, menjadikan sebagian yang lainnya sebagai rabb-rabb selain Allah. Hal ini terjadi dalam sistem demokrasi paling maju sebagaimana terjadi dalam sistem diktator paling hina.” Dia berkata juga, “Sesungguhnya hak Rububiyah eksklusif paling nyata yang diukur untuk manusia adalah menjadikan manusia sebagai hamba-Nya, membuat syariat untuk kehidupan mereka, menegakkan tata nilai untuk mereka. Barangsiapa mendakwakan sesuatu untuk dirinya dari semua ini, maka sungguh dia telah mendakwakan dirinya memiliki hak Uluhiyah khusus, dan menahbiskan dirinya untuk manusia sebagai ilah selain Allah.”
Dia melanjutkan, “Sesungguhnya yang memiliki hak penghalalan dan pengharaman adalah Allah semata, dan hal itu bukan milik manusia mana pun, bukan individu, bukan kelas masyarakat, bukan bangsa, bukan juga manusia seluruhnya, kecuali kekuasaan milik Allah sesuai syariat Allah.” Selesai pernyataannya rahimahullah. 

Kedua, agama demokrasi dibangun di atas prinsip kebebasan beragama dan berkeyakinan. Di bawah naungan demokrasi, seseorang bisa memiliki keyakinan apa saja, beragama dengan agama sesuai keinginannya, dan murtad menuju agama mana pun kapan pun dia mau. Meskipun hal itu menjadikannya keluar dari agama Allah Ta’ala, menuju atheisme dan peribadatan selain Allah ta’ala. Tidak diragukan lagi, hal ini adalah batil lagi rusak, dan berlainan dengan banyak sekali teks syariat. Ini mengingat, seorang muslim yang murtad dari agamanya menuju kekafiran maka hukuman dalam Islam adalah dibunuh, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan selainnya, “Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia,” dan bukan malah: “biarkanlah dia.” Maka seorang murtad tidaklah sah untuk terikat dengan sebuah perjanjian, keamanan, dan hak hidup berdampingan. Dia tidak mendapatkan apa pun dalam agama Allah selain permohonan taubat atau pedang. 

Ketiga, demokrasi juga berdiri di atas paradigma bahwa rakyat adalah satu-satunya pemutus yang menjadi rujukan semua peraturan dan persengketaan. Jika terjadi perselisihan atau persengketaan antara pemutus hukum dan yang dihukumi, maka kita dapati kedua pihak ini saling mengancam untuk mengembalikan semuanya kepada kehendak dan pilihan rakyat. Rakyat menjadi pemutus perselisihan di antara keduanya. 

Sungguh, ini berlainan dan bertentangan dengan ushul (pokok-pokok) tauhid yang menetapkan bahwa al-hakam (pemutus) yang berhak memutuskan pertikaian adalah Allah Ta’ala, tidak ada siapa pun selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka hukumnya dikembalikan kepada Allah,” (Asy-Syura: 10). Sedangkan demokrasi mengatakan, “Apa pun yang kamu perselisihkan maka hukumnya dikembalikan kepada rakyat dan tidak ada selain rakyat.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian, maka jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Al Quran dan As Sunnah, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (akhirat),” (An-Nisaa`: 59) 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya I’lam Al-Muwaqqi’in, “’Pengembalian’ (kepada Al-Quran dan As-Sunnah) dijadikan sebagai salah satu sebab keimanan dan prasyaratnya. Apabila “pengembalian” ini tiada, maka tiada pula keimanan.” Selesai perkataan beliau. 

Sungguh, kehendak untuk berhakim kepada rakyat atau kepada selain Allah Ta’ala, menurut pandangan syariat sama dengan berhakim kepada thaghut yang wajib untuk dikafirkan. Sebagaimana Allah berfirman, “Tidakkah kamu melihat orang-orang yang mengklaim bahwa mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada orang-orang sebelum kamu, mereka ingin berhakim kepada thaghut padahal mereka diperintahkan untuk mengkufurinya,” (An-Nisaa`: 60)

Maka Allah Ta’ala menganggap iman mereka hanya klaim dan hanya sebatas pengakuan, tidak ada hakikatnya. Hanya sekadar keinginan untuk berhakim kepada thaghut dan UU-nya, serta seluruh peraturan selain peraturan Allah. Atau hukum selain hukum yang diturunkan Allah, maka itu termasuk ke dalam makna thaghut yang wajib dikafirkan.

Source: AL FATIHIN 09



DAULAH ISLAM DAN AGAMA DEMOKRASI


Daulah Islam dan
AGAMA DEMOKRASI


Tidak sehari pun para muwahid di Irak menyembunyikan sikap mereka terhadap agama demokrasi dan para pemeluk musyriknya itu. Sejak awal jihad, mereka mengumumkan bahwa demokrasi adalah kekafiran, dan para rabbnya (tuhan) dari kalangan legislator (pembuat UU) selain Allah dan para penguasa yang tidak menegakkan hukum Allah adalah para thaghut. Dan juga, para pencoblos mereka atau orang yang rela dengan hukum dan syariat mereka, maka mereka adalah para hamba mereka, status mereka adalah musyrik.
Dan mereka tidak ragu untuk menampakkan kebenaran yang mereka yakini, bahwa kebanyakan dari organisasi-organisasi dan kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam secara dusta dan palsu, semuanya beriman kepada agama demokrasi. Para muwahhid secara tegas memvonis mereka kafir, serta memerangi orang di sekitar mereka dari kalangan pemeluk agama demokrasi seperti mereka memerangi kaum kafir musyrik, seperti mereka memerangi para dedengkot dari kalangan sekularis, Rafidhah, dan Nasrani yang memerangi Islam.
Adapun selain mereka dari kalangan para pendakwa manhaj salaf dan para pengklaim jihad demi meninggikan kalimat Allah, maka sungguh kebanyakan mereka telah mengambil manhaj (metode) Batiniyah (kebatinan) yang menjijikan, menyembunyikan hakikat madzhab mereka terkait demokrasi dan para pendukungnya, serta puas hanya dengan membicarakan satu aspek pembicaraan, dan puas dengan sesuatu yang dapat membuat seluruh pihak ridha juga enggan menetapkan hukum mereka sebenarnya. Seakan jelas bahwa umat sepakat menghukumi keislaman para pemeluk agama demokrasi, serta memberi uzur kepada para legislator selain Allah dan para penguasa yang tidak menegakkan hukum Allah, juga para pencoblos. Bahkan sebagian mereka membolehkan mencoblos para thaghut karena memandang ada kemaslahatan bagi umat Islam. Kemaslahatan apa yang terkandung dalam kesyirikan kepada Allah yang Maha Agung?
Sejak awal, tanpa ditutup-tutupi dan tanpa tauriyah (perifrasa/berbelit-belit), Daulah Islam melantangkan kekafirannya kepada demokrasi, serta berlepas diri dari para pendukungnya, dan memusuhi mereka, tak ubahnya permusuhan para pengusung tauhid terhadap kaum musyrik. Maka janganlah engkau membiarkan satu pun celah bagi seorang pengklaim untuk berdusta dalam persoalan ini, yang kemudian dia menyandarkan pemberian uzur bagi pelaku syirik akbar dan orang yang melanggar ashluddin (pokok agama) kepada umaraa` (petinggi) Daulah Islam. Padahal orang berakal lagi memiliki pilihan (bukan mukrah/terpaksa) tidak diuzur menggunakan sejumlah uzur yang digunakan untuk para pembela kaum musyrik.
Meski demikian, Daulah Islam telah menunda untuk menarget sebagian golongan yang terjatuh ke dalam syirik demokrasi, seperti para pencoblos, menunda untuk membunuh mereka, dengan harapan mereka sadar dan mendapatkan petunjuk kepada seruan kebenaran dan hidayah. Selama tahun-tahun terakhir ini, Daulah Islam senantiasa menjelaskan hakekat pemilu yang notabene adalah proses perwakilan dan pendelegasian dari para pencoblos kepada wakil mereka dalam membuat UU (legislasi) selain Allah dan penetapan hukum selain apa yang Allah turunkan. Sehingga dengan itu, mereka menjadi “wakil” pemilih dalam perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kekafiran. Dan sesungguhnya mereka yang terjatuh dalam perbuatan ini adalah orang-orang yang menyekutukan Allah  (musyrikin), karena mereka membolehkan menyematkan sifat-sifat khusus Allah untuk selain-Nya; yakni pembuatan syariat (tasyri’) dan hukum.
Kami mengira bahwa Daulah Islam telah menunaikan uzur (alasan) dalam dakwahnya menyeru manusia kepada Allah berkenaan kesyirikan pemilu. Bahkan dalam segala hal yang dilakukan pemerintahan-pemerintahan kafir sendiri; berupa penjelasan hakikat demokrasi melalui siaran harian berita-berita parlemen dan berbagai pemerintahan kafir, serta berita-berita pemilunya dan perbincangan tiada henti mengenainya, juga seruannya (partisipasi pemilu) dan keterangan tentang pemilu demi membujuk manusia ikut serta di dalamnya, semua ini menjadi (penjelasan) cukup bagi orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya, dan dia telah menyaksikannya.
Karena itulah, Daulah Islam terus-menerus melarang syirik pemilu dengan berbagai macam cara, sebagaimana yang selalu dilakukannya. Dan Daulah Islam akan menarget ‘kuil-kuil’ peribadatan agama demokrasi yang memapankan para pengikutnya dalam peribadatan mereka kepada para thaghut legislator selain Allah; yaitu tempat-tempat pencoblosan para thaghut (baca: TPS), tempat-tempat pembuatan UU selain syariat Allah, serta tempat-tempat pemutusan hukum selain yang Allah turunkan, dengan maksud mencegah terjadinya kesyirikan di dalamnya dan membunuh kaum musyrik yang sedang menjalankan kesyirikan mereka di dalamnya. Pun demikian, Daulah Islam menarget dengan pembunuhan setiap musyrik yang menyerukan berbagai ritual agama demokrasi, seperti pencalonan posisi thaghut, pencoblosan para thaghut, berhukum dengan syariat mereka, dan tahakum kepada mereka.
Dalam pengumuman yang dirilis melalui lisan Jubir Resmi Daulah Islam Syaikh Mujahid Abul Hasan Al-Muhajir –semoga Allah menjaganya— tentu sudah cukup bagi orang yang menginginkan hidayah dari kalangan kaum musyrik, sehingga dia mau bertaubat kepada Allah dari kesyirikannya, berlepas diri dari kaum musyirik menuju Allah, lalu menjauh dari ‘kuil-kuil’ dan majelis-majelis syirikmereka.
Beliau berkata, “Dan kami memperingatkan bahwa pemerintahan Hasyad Rafidhah yang disokong Iran, hendak menyambut apa yang mereka namankan dengan pemilihan umum (pemilu). Maka siapa saja yang berusaha untuk melangsungkannya, dengna sokongan dan bantuan, maka berarti dia termasuk loyalis kepadanya dan para penganutnya. Maka status hukumnya sama seperti status para penyeru dan pendukungnya. Para calong anggota legislative adalah para pengklaim Rububiyah dan Uluhiyah.dan para pencoblos mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai rab-rab dan sekutu-sekutu selain Allah, maka hukum mereka dalam agama Allah adalah kafir dan keluar dari Islam (murtad).
Maka sungguh kami mewanti-wanti kalian, wahai Ahlusunnah di Irak, agar tidak loyal kepada orang-orang yang memasuki pintu-pintu kemurtadan. Sesungguhnya, tempat-tempat pencoblosan (TPS) dan siapa saja yang berada didalamnya, adalah sasaran pedang-pedang kami.kaena itu, menjauhlah darinya dan janganlah berjalan-jalan didekatnya.”
Wahai kaum muslimin, jagalah agama kalian, jangan sampai para ulama durjana menipu kalian, dan janganlah kalian merespons fatwa-fatwa para juru dakwah penyeru pintu Jahanam.
Wahai mujahidin, perangilah para pemimpin kekafiran dari kalangan yang mengajak kepada kesyirikan ini (demokrasi), dan mengagitasi manusia untuk melakoninya, memolesnya agar nampak indah di mata mereka, guna merusak agama dan dunia mereka. Mulailah perangi mereka, targetlah markas-markas pemilu, serta rusaklah agama para pemeluk demokrasi, dan usaha mereka membuat kerusakan di muka bumi.

Source: AL FATIHIN 09

7/08/2019

NESTAPA KAUM MUQALLIDIN


NESTAPA
KAUM MUQALLIDIN
DALAM SYIRIK DAN KEKAFIRAN


Di saat derasnya arus syirik dan kekafiran, ternyata masih banyak juga orang yang tidak mau mencari kebenaran, mereka betah taqlid dan ikut-ikutan di dalam segala hal, bahkan taqlid kepada sosok telah menambah di kalangan orang-orang yang intisab (menyandarkan) kepada salaf, padahal salaf bara’ (berlepas diri) darinya.

Banyak orang-orang yang mengaku Islam di negeri ini ikut-ikutan dalam budaya syirik tumbal dan sesajian serta meminta pada orang yang sudah mati. Di sisi lain, banyak orang di negeri ini ikut-ikutan dalam pesta syirik demokrasi, padahal mereka mengetahui bahwa yang demikian itu adalah pelimpahan wewenang pembuatan hukum dan perundang-undangan kepada rakyat atau wakilnya yang disederhanakan dengan ungkapan mereka: Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat.

Mereka mengatakan: “Kalau ikut pemilu itu syirik dan pelakunya musyrik tentulah Doktor fulan dan Ustadz fulan tidak masuk partai, kami ikut mereka saja, dan masa mereka akan menyesatkan kami...?” Ada sebahagian orang yang intisab kepada salaf mengatakan: “Kami ikut pemilu karena ada fatwa dari Syaikh Fulani yang melegalkannya... dan masa dia memfatwakan syirik?!”.

Doktor fulan adalah ahli dalam tafsir, Doktor fulan adalah ahli dalam syari’at, atau si fulan Doktor hadits, dan si fulan Doktor Syari’ah, serta si fulan ahli bahkan Doktor dalam bidang Aqidah… Semuanya ikut dalam pemilu dan bahkan mereka itu pejabat teras di Partai Islam Fulan, saya ikut mereka, tidak mungkin mereka mengajak kepada syirik !

Mereka taqlid kepada tokoh mereka dalam syirik seraya berbaik sangka kepada para tokoh itu, dan mengira bahwa sikap taqlid itu bisa menyelamatkan mereka dari azab, tapi ternyata mereka dan orang-oang yang diikutinya semuanya masuk neraka kalau tidak taubat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ٤٧  قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ ٤٨

“Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”, Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: ”Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-Nya”. (Al Mu’min: 47-48)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Ini adalah pemberitahuan dari Allah dan peringatan bahwa orang-orang yang diikuti dan yang mengikuti sama-sama di dalam azab (api neraka), dan taqlid mereka ini sama sekali tidak bisa bermanfaat bagi mereka.” (Thariqul Hijratain)

Bahkan di akhirat kelak para tokoh itu akan berlepas diri dari para muqallidin.

Orang yang melegalkan ikut pemilu demokrasi dengan dalih ‘Maslahat Dakwah’ atau berdalih dengan Hilful Fudlul, atau dengan posisi Yusuf ‘alaihissalam, dan segudang syubhat yang dilontarkan oleh ulama kaum musyrikin dalam rangka melegalkan sikap mereka masuk dalam parlemen (DPR/MPR), terus mereka diikuti oleh para pengikutnya dari kalangan Muqallidin Juhhal (para pengekor yang bodoh) padahal mereka mengetahui apa itu demokrasi bahwa itu syirik, maka para tokoh itu akan bara’ dari kaum muqallidin itu, dan kaum muqallidin berangan-angan andai mereka bisa kembali ke dunia supaya bisa bara’ dari mereka, tetapi itu tidak mungkin karena yang ada hanyalah penyesalan dan kekekalan dalam azab, sebagaimana firman-Nya ta'ala:

إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ ١٦٦ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡهُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّاۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ ١٦٧

“Yaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mereka melihat siksa, dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka” (Al Baqarah: 166-167)

Begitulah nestapa mereka kelak, walau hari ini mereka menuduh para muwahhidin yang bara’ dari demokrasi dan pemilunya sebagai kaki-tangan Yahudi dan Nashrani, karena menurut klaim syirik mereka bahwa orang-orang yang tidak memberikan suaranya kepada Partai (yang mengaku) Islam dan bahkan melarangnya, berarti mereka telah melapangkan jalan musuh Islam (yaitu Nashrani) untuk berkuasa… begitu kata mereka. Padahal musuh Islam (tauhid) itu sangatlah banyak, bukan hanya Nashrani saja, tetapi mereka yang melegalkan pemilu adalah musuh tauhid.

Dan sama juga dengan kaum muqallidin di atas orang-orang yang bagian dari Salafiyyin Maz’uumin yang ikut pemilu demokrasi dengan hujjah fatwa syaikh Fulani, sedangkan status syaikhnya itu tidak terlepas dari dua keadaan: Bisa jadi dia jahil akan waqi’ (realita kekinian) apa itu demokrasi, lalu dia berfatwa tanpa dasar ilmu (akan waqi’) sehingga dia sesat lagi menyesatkan, dan juka dia tahu akan waqi’ demokrasi, berarti dia adalah tergolong ulama musyrikin lagi orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai arbab selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Dan begitu juga orang-orang yang melakukan kekafiran atau kemusyrikan dengan dalih siasat seraya taqlid kepada ustadznya yang menafsirkan surat Ali Imran: 28 tanpa dasar ilmu. Orang-orang yang dahulu dipuji dan disanjung lagi dihormati semasa mereka di dunia, tapi kelak di akhirat akan dianggap sebagai biang kerok kesesatan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِي ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ لِأُولَىٰهُمۡ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَ‍َٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلّٖ ضِعۡفٞ وَلَٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ ٣٨ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ٣٩


“Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya) sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian (yaitu para pengikut) di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu (yaitu para pemimpin): ”Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka (siksaan) yang berlipat ganda dari neraka”, Allah berfirman: ”Masing-masing mendapatkan siksaan yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”. Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: ”Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas  kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan”. (Al A’raaf: 38-39)

Orang-orang yang taqlid kepada para tokoh dalam hal syirik dan kekafiran, biasanya mengatakan, “Andai ini salah, tentulah yang menanggung dosanya adalah orang-orang yang kami ikuti…” tetapi ternyata realita di akhirat lain dari dugaan mereka. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَبَرَزُواْ لِلَّهِ جَمِيعٗا فَقَالَ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ قَالُواْ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَيۡنَٰكُمۡۖ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَجَزِعۡنَآ أَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٖ ٢١

“Dan mereka semuanya (di padang masyhar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong:   ”Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walau) sedikit saja?” Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepada kamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh atau bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri” (Ibrahim: 21)

Seorang bawahan biasanya mengatakan: “Kami hanya menjalankan tugas dan perintah dari atasan”, akan tetapi nanti kenyataannya akan seperti dalam ayat di  atas, di mana si atasan tidak bisa melindunginya dari azab Allah… dan bagaimana bisa sedangkan dia sendiri diazab.

Kaum muqallidun yang mengikuti para Doktor dan Ulamanya dalam syirik dan kekafiran, mereka mengikutinya dalam pemilu demokrasi syirik, bahkan meyakininya sebagai bentuk dakwah, syi’ar, ibadah, dan bahkan sebagai bentuk jihad politik. Mereka menganggap orang yang mereka ikuti sebagai pimpinan Harakah Islamiyah, namun kelak akan berbalik melaknatnya.

Begitu juga orang yang taqlid dalam menyanjung ajaran Pancasila dan UUD 1945, juga orang yang ikut-ikutan dalam tumbal sesajen dan meminta kekuburan, semuanya akan menyesal dan melaknat para tokohnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَعَنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمۡ سَعِيرًا ٦٤ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّا يَجِدُونَ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ٦٥ يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ ٦٦ وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠ ٦٧ رَبَّنَآ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَيۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنٗا كَبِيرٗا ٦٨

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak balikkan dalam neraka, mereka berkata: ”Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”, dan mereka berkata: ”Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Al Ahzab: 64-68)



ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
SAMA SEKALI TIDAK MENGUDZUR KAUM MUQALLIDIN
SAAT MEREKA TAQLID DALAM SYIRIK DAN KEKAFIRAN.

Orang sekarang tidak mengetahui bahwa tumbal atau sesajen itu syirik dengan sebab talbis para tokoh mereka, Banyak orang tidak mengetahui bahwa meminta-minta pada kuburan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam atau para shalihin yang sudah meninggal itu syirik dengan sebab talbis para kiyai dan para ustadz, dan tidak sedikit yang tidak mengetahui bahwa ikut pemilu demokrasi itu syirik dengan sebab talbis para Doktor dan alumnus timur tengah sehingga mereka terjerumus ke dalam syirik-syirik ini dengan dasar taqlid. Namun anggapan itu semuanya tidak berfaidah karena Allah telah mengkafirkan Yahudi dan Nashrani serta tidak mengudzur mereka dengan sebab penyesatan para rahib dan ulama mereka dalam hal pemalingan hukum/tasyri –yang mana ia adalah ibadah– kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, padahal mereka tidak tahu bahwa taat dalam hal itu adalah ibadah sehingga mereka taqlid kepada para tokoh, jadi kekafiran mereka adalah kufur taqlid, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih Putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah: 31)

Nanti kaum muqallidin akan berbantah-bantahan dengan orang-orang yang mereka ikuti, Allah ta'ala berfirman:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن نُّؤۡمِنَ بِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ وَلَا بِٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ مَوۡقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمۡ يَرۡجِعُ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ ٱلۡقَوۡلَ يَقُولُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ لَوۡلَآ أَنتُمۡ لَكُنَّا مُؤۡمِنِينَ ٣١ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُوٓاْ أَنَحۡنُ صَدَدۡنَٰكُمۡ عَنِ ٱلۡهُدَىٰ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَكُمۖ بَلۡ كُنتُم مُّجۡرِمِينَ ٣٢ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ بَلۡ مَكۡرُ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ إِذۡ تَأۡمُرُونَنَآ أَن نَّكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَنَجۡعَلَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ وَأَسَرُّواْ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَۚ وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَغۡلَٰلَ فِيٓ أَعۡنَاقِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۖ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٣٣

“Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu di hadapkan kepada Tuhannya, sebahagian mereka menghadapkan perkataan kepada sebahagian yang lain. Orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak !), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak!), sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab, dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melaikan dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Saba: 31-33)

Melakukan kekafiran atau kemusryikan dengan alasan taqlid dan ketertindasan adalah bukan udzur yang diterima, justru Allah Subhanahu Wa Ta'ala banyak mencela para pelaku syirik yang beralasan mengikuti jejak leluhur, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَايَهۡتَدُونَ ١٧٠

“Dan apabila dikatakan kepada mereka,”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah !”. Mereka menjawab, ”(Tidak !), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”, (apakah mereka akan mengikutinya juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)

dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

Apabila dikatakan kepada mereka: ”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”, mereka menjawab: ”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti jejak nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengikuti apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?”. (Al Maidah: 104)

Allah ta'ala juga menjelaskan di antara tujuan Dia mengambil janji fithrah atas manusia saat mereka ada di dalam sulbi ayahnya adalah supaya tidak beralasan taqlid saat berbuat syirik, serta bahwa alasan taqlid itu tidak diterima di sisi Allah. Dan Allah ta’ala berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢ أَوۡ تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ١٧٣

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan  anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. (Al A’raaf: 173)

Dan itulah fenomena yang ada di setiap zaman dan tempat, taqlid dalam syirik dan kekafiran adalah sandaran orang-orang musyrik yang terhalang dari kebenaran. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ ٢٢ وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ ٢٣ قَٰلَ أَوَلَوۡ جِئۡتُكُم بِأَهۡدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمۡ عَلَيۡهِ ءَابَآءَكُمۡۖ قَالُوٓاْ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ٢٤ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ٢٥

“Bahkan mereka berkata: ”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu ajaran, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu ajaran agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. Rasul itu berkata: ”Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk pada apa yang kamu dapati bapak-bapak kamu menganutnya?”. Mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. (Az Zukhruf: 22-25)

KETAHUILAH, SESUNGGUHNYA TAQLID ITU
MENUTUP HATI DARI MENERIMA KEBENARAN.

Abu Thalib mati dalam status musyrik karena berat meninggalkan ajaran leluhurnya, padahal ia mengetahui kebenaran. Al Walid Ibnu Al Mughirah mati dalam keadaan kafir padahal ia tahu benar akan kebenaran Al Quran. Bapak dan ibu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mati dalam keadaan musyrik, padahal belum ada rasul yang diutus, namun kedua-duanya taqlid pada ajaran leluhur, maka apa gerangan dengan orang-orang sekarang yang masih taqlid dalam syirik dan kekafiran padahal Al Quran dan As Sunnah ada di tengah mereka…??!

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim tentang azab kubur:

“Dan apabila orang kafir atau orang munafik maka dia berkata: “Saya tidak mengetahui, saya dahulu mengatakan apa yang dikatakan oleh manusia”, maka dikatakan: “Kamu tidak tahu dan kamu tidak mengikuti”, kemudian dipukul dengan pentungan dari besi di antara kedua telinganya”.

Orang saat berbuat syirik biasanya berdalih dengan apa yang dilakukan umumnya manusia, dan itulah nestapanya di alam kubur.

Para ulama juga sepakat bahwa orang yang taqlid di dalam kekafiran adalah kafir calon penghuni neraka. Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata di dalam Kitab Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain dalam Ath Thabaqah As Saabilah ‘Asyar, mereka adalah: “Jajaran kaum muqallidin juhhalul kafarah, para pengikut mereka dan keledai-keledaimereka yang bersama mereka sebagai pengikutnya, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami di atas suatu ajaran (tradisi), dan sesungguhnya kami bertauladan terhadap mereka”, lalu beliau berkata: “Dan ummat ini telah sepakat bahwa thabaqah (jajaran) ini adalah kuffar meskipun mereka itu bodoh lagi bertaqlid kepada pimpinan-pimpinan dan imam-imam mereka, kecuali apa yang dihikayatkan dari sebahagian ahli bid’ah (yang berpendapat) bahwa mereka tidak divonis dengan neraka dan mereka dijadikan sama dengan orang yang belum sampai dakwah kepadanya. Sedang ini adalah pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari imam-imam kaum muslimin, baik shahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka. Dan pendapat ini hanya dikenal dari sebahagian ahlul kalam yang muhdats (bid’ah) dalam Islam, sedangkan telah sah dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau berkata: ”Sesungguhnya syurga tidak masuk ke dalamnya kecuali jiwa muslim” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Iman No. 178].

Sedangkan muqallid ini bukan muslim, dan dia itu berakal lagi mukallaf, sedangkan orang yang berakal lagi mukallaf itu tidak keluar dari (status) Islam atau kufur”.

Sedangkan Islam, sebagaimana yang beliau katakan adalah: “Tauhidullah dan ibadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengikutinya dalam apa yang beliau bawa. Selama si hamba tidak mendatangkan hal ini, maka dia bukan muslim”, sedangkan si muqallid tadi tidaklah mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka bagaimana ia bisa disebut muslim.

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Aba Buthain rahimahullah berkata di dalam Risalah Al Intishar Li Hizbillahil Muwahhidin: “Orang yang mengklaim bahwa pelaku kekafiran karena takwil, atau ijtihad, atau keliru (memahami), atau taqlid, atau kejahilan diudzur, sungguh dia itu menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan Ijma tanpa diragukan lagi”. (Aqidatul Muwahhidin: 18)

Al Qurthubi berkata dalam tafsir ayat mitsaq al fithrah: “Dan tidak ada udzur bagi orang yang bertaqlid dalam tauhid”.

Dalam tafsir ayat yang sama Al Baidlawi berkata: “Karena taqlid saat tegak dalil dan adanya kesempatan untuk (mencari) tahu adalah tidak pantas menjadi alasan (udzur)”.

Dari samping lain, sesungguhnya taqlid adalah penyakit yang membutakan pikiran dan akal serta pemahaman. Karena taqlid, sesuatu yang tidak masuk akal bisa dijadikan keyakinan, dan juga dalil tidak berguna lagi saat penyakit ini merasuk kedalam jiwa.

Kami ingatkan di sini…

Orang yang menyesatkan kalian sekarang tidak akan menolong kalian kelak di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena setiap jiwa tergadai dengan amalannya, dan syaitanpun melarang para pengikutnya dari mencela dia.

Wahai para pengikut partai dan orang-orang yang ikut pemilu demokrasi karena taqlid terhadap Doktor fulan, Syaikh fulan, dan Ustadz fulan, padahal para muqallidin itu tahu apa hakikat demokrasi… sadarlah dan kembalilah ke pangkuan Islam !!!

Wahai orang-orang yang berkutat pada tumbal, sesajen, dan meminta-minta kepada orang sudah mati seraya taqlid kepada tokoh adat, para kiayi, ajengan… Bangkitlah dan carilah tauhid serta tanggalkan itu semua…!! Sesungguhnya kalian itu belum Islam dan kalian belum merealisasikan tauhid yang merupakan inti Al Islam ini.

Kami hanya mengingatkan kalian, sedangkan hidayah ada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kepada-Nya kita kembali dan dihadapan-Nya kita dikumpulkan.

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘Alamiin…

22 Agustus 2004
Hamba yang faqir
Abu Sulaiman Aman Abdurrahman


TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ Oleh: Ibnul Jauzi Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya ada...