10/03/2019

MENOLAK TAWARAN MENJADI PEMIMPIN


MENOLAK TAWARAN MENJADI PEMIMPIN

Kami bukan lagi mengangkat suatu tawaran jabatan penting di negeri ini oleh seorang da'i kondang. Karena hal itu bukanlah hal yang asing bagi orang yang baik agamanya.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ketika sambutan dakwahnya di Mekkah bertambah hari bertambah banyak dari kalangan awam sampai kalangan tokoh Quraisy, sehingga menggelisahkan pemuka-pemuka Musyrikin. Kondisi itu memaksa para tokoh untuk melakukan pendekatan dan tawaran kepada Rasulullah.

Beberapa macam pendekatan orang kafir kepada Rasulullah dan kaum muslimin, diantaranya:


)) Pertama

Mereka pernah mengajak Rasulullah Saw. untuk kompromi, menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka pun akan menyembah sembahannya selama satu tahun.
( _Catatan_: Seandainya di negeri ini ada kesepakatan untuk 5 tahun mendatang pakai syari'at Islam total, dan 5 tahun berikutnya pakai syari'at buatan manusia. Kayaknya orang islam sekarang ini menganggap perjuangannya telah menang. Tidak, sekalipun kesepakatan seperti itu bukanlah kemenangan!!!)

Maka Allah Swt. menurunkan surat ini dan memerintahkan kepada Rasul-Nya dalam surat ini agar memutuskan hubungan dengan agama mereka secara keseluruhan; (lihat tafsir Ibnu Katsir surat Al Kafirun)

Untuk itu Allah Swt. berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

Katakanlah, "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan mengabdi apa yang kalian ibadahi.
(Qs. Al-Kafirun: 1-2)

Yakni berhala-berhala dan sekutu-sekutu yang mereka ada-adakan.

Karena sebelum ayat ini turun, Alloh telah menyuruh rasulNya agar meninggalkan perbuatan syirik dan orangnya". Sebagaimana firmanNya

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

"dan tinggalkanlah segala yang keji
(perbuatan syirik)" (QS. Al-Muddassir 74: 5)

وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

dan tinggalkanlah mereka (orang musyrik) dengan cara yang baik." (QS. Al-Muzzammil 73: 10)


Tetapi pendekatan para tokoh ini tidak mempan. Beliau tetap Istiqomah mengajak manusia untuk meninggalkan syirik dan orang musyrik.


)) Kedua

Mereka mencoba membuat pendekatan kepada Rasulullah dengan memberikan kedudukan kepemimpinan dalam system syirik.

Melalui paman beliau (Abu Tholib) mereka mengemukakan agar Rasulullah berhenti menyerukan tauhid, meninggalkan system syirik yang sedang berlaku saat itu. Mereka juga mau memberikan harta sebanyak-banyaknya sehingga beliau menjadi orang terkaya di negeri Mekkah.

Sungguh tak terduga oleh mereka dari jawaban beliau yang sangat tegas. Beliau mengatakan kepada Abu Tholib:

"Wahai paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku berhenti menyerukan kalimat ini (dakwah tauhid), tidak wahai paman. Saya tetap menyerukannya sehingga saya menang dengan kalimat ini atau hancur karenanya"

Masya Allah, subhanallah tegar dan teguhnya hati beliau. Tawaran kepemimpinan pun ditolaknya.

Lain dengan orang sekarang yang mengatakan: "jika kita tidak rebut kepemimpinan ini maka akan diambil oleh orang kafir. Rugi kita ..."

Rasulullah diberi (bukan meminta atau merebut) tidak mau selama masih menggunakan system syirik!!!


)) Ketiga

Mereka merayu (mengadakan pendekatan) lebih lanjut. Kali ini sangat halus. Beliau diajak sedikit mengalah. Melakukan hal yang sangat ringan, yakni menyentuh berhala mereka. Jika Rasul mau, mereka berjanji akan menjadi sahabat, berhenti memusuhi. Tawaran ini setelah permusuhan orang kafir gencar dan sangat menyedihkan Rasulullah.
Jika orang sekarang ditawari seperti ini pasti menerima dengan baik. Pakai alasan kaidah: demi kemaslahatan dakwah, rela melanggar akidah (sekedar menyentuh).

Menyentuh yang mereka maksudkan adalah setuju atau sepakat atau rela walau hanya pura-pura secara lahir saja. Tetapi Allah tidak rela, walau hanya ucapan atau perbuatan yang sepele. Sepakat atau setuju dengan syirik dan orang musyrik itu menghilangkan iman. Atau diam ketika ada ketetapan syirik juga termasuk menghilangkan iman. Para sahabat telah menyatakan murtad orang-orang yang berada di Masjid Basrah ketika Di Masjid itu ada yang mengatakan Musailamah sebagai Nabi. Nah loh... Lalu apa gerangan jika diucapkan dengan lisan atau dilakukan dengan hati??? Mengucapkan atau melakukan pengabdian kepada sesama makhluk itu menghilangkan tauhid. Apalagi hati meridhoi. Na'udzubillah.

Kembali pada pembahasan tawaran orang kafir untuk menyentuh berhala (menyetujui kesyirikan), Rasulullah hampir mau dengan pertimbangan kemaslahatan (hilangnya permusuhan dengan orang kafir). Allah marah dan mengancam kepada Rasulullah jika beliau mau mensepakati keinginan orang kafir. Maka turunlah firman Allah QS. Al Isra' 73-75

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِىَ عَلَيْنَا غَيْرَهُۥ ۖ وَإِذًا لَّاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا
وَلَوْلَآ أَنْ ثَبَّتْنٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا
إِذًا لَّأَذَقْنٰكَ ضِعْفَ الْحَيٰوةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

"Dan mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-ada yang lain terhadap Kami; dan jika demikian tentu mereka menjadikan engkau sahabat yang setia. Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka, jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami." (QS. Al-Isra' 17: 73-75)

Imam Suyuthi dalam kitab Asbabun Nuzulnya mengutip riwayat dari Sa'id bin Zubair bahwa dahulu Rasulullah biasanya mengusap Hajar Aswad. Maka orang Quraisy pun berkata, "kami tidak akan membiarkanmu mengusapnya kecuali kalau kamu mengusap tuhan-tuhan kami". Maka Rasulullah berkata dalam hati, "apa salahnya kalau aku lakukan , sementara Allah pun mengetahui aku tidak menyetujuinya. Maka turunlah ayat ini.

"Wahai dzat yang membolak-balik hati, balikkan lah hati kami kepada dien-Mu. Wahai dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepadaMu". Aamiin

Saudaraku... Semoga Allah mengokohkan kita tetap sebagai abdi Alloh semata, karena tidak ada pengabdian yang Haq kecuali hanya kepadaNya. Inilah inti seruan nabi yang telah kita imani, yakni kalimat La Ilaha illalloh. Mari kita wujudkan keyakinan ini dengan lisan dan perbuatan agar kita mendapat sorga yang Alloh janjikan. Tidak ada iman jika masih sepakat dengan pengabdian kepada sesama makhluk, sekalipun system itu mengutip dari kitab Allah. Seperti Elyasik pada zaman syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al Alamiah Ibnul Qayyim hidup. Beliau beliau menolak Elyasik tanpa kompromi sekalipun harus mendekam di penjara. Bahkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah meninggal dalam penjara.

Elyasik bukanlah syari'at Allah, sekalipun ketika membuatnya merujuk dengan (mengambil) dari Alquran. Itu tetap disebut syariat manusia, syariat/ jukum jahiliyyah. Kata Allah dalam kitabNya:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maidah: 50)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Swt. mengingkari perbuatan orang-orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam lagi mencakup semua kebaikan, melarang setiap perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum lelaki tanpa sandaran dari syariat Allah, seperti yang pernah dilakukan oleh ahli Jahiliah. Orang-orang Jahiliah memutuskan perkara mereka dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat-buat sendiri oleh pendapat dan keinginan mereka. Dan juga sama dengan hukum yang dipakai oleh bangsa Tartar berupa undang-undang kerajaan yang diambil dari raja mereka, yaitu Jengis Khan; perundang-undangan tersebut dibuat oleh Al-Yasuq untuk mereka. Undang-undang ini terangkum di dalam suatu kitab yang di dalamnya memuat semua hukum-hukum yang dipetik dari berbagai macam syari'at, dari agama Yahudi, Nasrani, dan agama Islam serta lain-lainnya. Di dalamnya banyak terdapat undang-undang yang ditetapkan hanya berdasarkan pandangan dan keinginan Jengis Khan sendiri, kemudian hal tersebut di kalangan keturunannya menjadi peraturan yang diikuti dan _lebih diprioritaskan atas hukum Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya_.

Barang siapa yang melakukan hal tersebut dari kalangan mereka, maka dia adalah orang kafir yang wajib diperangi hingga dia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, karena tiada hukum kecuali hukum-Nya, baik dalam perkara yang kecil maupun perkara yang besar. (Tafsir Ibnu Katsir)

Elyasik saja disebut hukum jahiliyyah, lalu yang hari ini berlaku mereka katakan adalah syariat Allah??? Mari kita berfikir cerdas.

Semoga manfaat, aamiin.

channel_ISLAMIC INSTITUTE

MASUK NERAKA PADA MASA FATRAH


MASUK NERAKA SEKALIPUN HIDUP SEBELUM MUHAMMAD SAW DIUTUS. MENGAPA?

Status manusia di sisi Allah dan bulughul hujjah.

Semua Rasul diberi tugas menyeru manusia agar manusia hanya mengabdikan diri kepada Allah semata, tidak mengabdi kepada sesama makhluk/ thoghut. Karena sesungguhnya manusia diciptakan agar di dunia ini hanya mengabdi kepada Allah, tidak kepada selainNya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
agar mereka mengabdi kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: 56)

Ketika sudah datang risalah tauhid ini kepada seseorang, maka saat itu dia statusnya hanya dua kemungkinan, mukmin atau kafir. Mereka yang menerimanya (yakni hatinya membenarkan, lisan mengikrarkan dan badan melaksanakan kandungan kalimat la Ilaha illalloh), maka dia telah mendapat hidayah iman dan disebut mukmin.

Dan mereka yang menolaknya (baik karena mendustakan, membangkang, atau mengabaikan seruan itu) maka dia telah tersesat, dan disebut kafir.
Jadi sebutan kafir atau mukmin bagi seseorang manakala sudah sampai risalah tauhid.
Dalilnya Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۚ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ibadahilah Allah saja, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan." (QS. An-Nahl 16: 36)

Perhatikan lafadz "kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan" maksudnya manusia terbagi menjadi dua kelompok saja (yang mendapat hidayah dan yang sesat). Tidak ada alternatif ketiganya.

Allah SWT berfirman:

فَذٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلٰلُ ۖ فَأَنّٰى تُصْرَفُونَ

"Maka itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?" (QS. Yunus 10: 32)

Karenanya, Alloh ta'ala menyebut manusia (setelah datang risalah ini) hanya sebutan kafir atau mukmin. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. At-Taghabun 64: 2)

Jika sampai mati tetap pada keimanannya atau kekafirannya, maka posisi itulah yang akan menentukan di akhirat akan masuk surga atau neraka. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدْخِلْهُ نَارًا خٰلِدًا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَابٌ مُّهِينٌ


"Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa' 4: 13-14)

Jadi tidak akan ada alasan yang diterima oleh Allah setelah sampainya risalah tauhid (setelah diutusnya Rasul) untuk tidak di adzab.

Allah SWT berfirman:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa' 4: 165)

Ini berlaku kepada siapapun, termasuk keluarga, bapak atau ibunya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Ketika ibunya Rasulullah meninggal dunia, Muhammad SAW belum diutus sebagai Rasul (baru umur 6 th). Tetapi di Mekkah masih ada ajaran tauhid dari Nabi Ibrahim dan Ismail as. Buktinya, saat masa hidup bapak ibunya Nabi, ketika itu masih ada orang yang Hanif. Artinya risalah tauhid masih ada yang mendengar.

Jika demikian, (bagi yang sudah mendengar/ sudah sampai risalah tauhid / bulughul hujjah) maka dia termasuk orang yang terkena beban risalah (seperti ibunya Rasulullah, Siti Aminah) Dan ketika itu ibunya Rasulullah termasuk yang tidak merespon risalah ini. Beliau larut dengan keyakinan kebanyakan orang saat itu, kesyirikan. Maka status beliau termasuk orang musyrik yang sudah sampai kepadanya risalah.

Tempatnya di akhirat dimana?
Inilah yang melatarbelakangi saya mengangkat tafsir QS At Taubah 113 sebagai dasar tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Saudaraku, mari kita kaji firman Allah Qs. At-Taubah 113.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim".

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip riwayat, diantaranya:

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang menceritakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَهُ قَرِيبٌ مِنْ أَلْفِ رَاكِبٍ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَعَيْنَاهُ تَذْرِفان، فَقَامَ إِلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وفَداه بِالْأَبِ وَالْأُمِّ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا لَكَ؟ قَالَ: "إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، فِي الِاسْتِغْفَارِ لِأُمِّي، فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، فَدَمِعَتْ عَيْنَايَ رَحْمَةً لَهَا مِنَ النَّارِ، وَإِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ: نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا، لِتُذَكِّرَكُمْ زيارتُها خَيْرًا، وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ، فَكُلُوا وَأَمْسِكُوا مَا شِئْتُمْ، وَنَهَيْتُكُمْ عَنِ الْأَشْرِبَةِ فِي الْأَوْعِيَةِ، فَاشْرَبُوا فِي أَيِّ وِعَاءٍ وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا".

"Ketika kami bersama Nabi SAW. dalam suatu perjalanan, lalu Nabi SAW. membawa kami turun istirahat. Saat itu jumlah kami kurang lebih seribu orang, semuanya berkendaraan. Lalu Nabi SAW. melakukan salat dua rakaat, sesudah itu Nabi SAW. menghadapkan wajahnya ke arah kami, sedangkan air mata mengalir dari kedua matanya. Umar ibnul Khattab bangkit mendekatinya dan mengucapkan kesetiaannya, lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah gerangan yang telah menimpamu?' Rasulullah SAW. menjawab: Sesungguhnya aku telah meminta kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun buat ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkanku, maka kedua mataku mengalirkan air mataku karena kasihan kepadanya di neraka. Dan sesungguhnya aku telah melarang kalian dari tiga perkara; aku telah melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur, semoga ziarah kubur mengingatkan kebaikan bagi kalian. Dan aku telah melarang kalian memakan daging kurban sesudah tiga hari, maka sekarang makanlah dan simpanlah sesuka kalian. Dan aku telah melarang kalian meminum minuman dengan memakai wadah, maka sekarang minumlah kalian dengan memakai wadah apa pun, tetapi janganlah kalian meminum minuman yang memabukkan.”

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Alqamah ibnu Marsad, dari Sulaiman ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa ketika Nabi SAW. tiba di Mekah, beliau mendatangi suatu kuburan, lalu duduk di dekatnya dan kelihatan seperti orang yang sedang berbicara, lalu bangkit seraya menangis. Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami melihat semua yang engkau perbuat." Rasulullah SAW. bersabda: 

إِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّي، فَأَذِنَ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي الِاسْتِغْفَارِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي


Sesungguhnya aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk menziarahi kuburan ibuku, maka Dia memberikan izin kepadaku. Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memohonkan ampun buat ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkannya". 

Maka belum pernah kelihatan Rasulullah SAW menangis lebih banyak daripada hari itu.

Ibnu Abu Hatim telah mengatakan dalam kitab Tafsir-nya bahwa telah meriwayatkan, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Di suatu hari Rasulullah SAW keluar menuju pekuburan, lalu kami mengikutinya. Rasulullah SAW. sampai di pekuburan itu dan duduk di salah satunya, lalu melakukan munajat cukup lama. Setelah itu beliau menangis, dan kami pun ikut menangis karena tangisannya. Kemudian bangkitlah Umar Ibnul Khattab menuju ke arahnya, maka Rasul SAW. memanggilnya dan memanggil kami, lalu bersabda, 'Apakah yang membuat kalian menangis?' Kami menjawab, 'Kami menangis karena tangisanmu.' Rasul SAW . bersabda: 

"إِنَّ الْقَبْرَ الَّذِي جلستُ عِنْدَهُ قَبْرَ آمِنَةَ، وَإِنِّي استأذنتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي"

Sesungguhnya kuburan yang tadi aku duduk di dekatnya adalah kuburan Aminah (ibunda Nabi SAW.). Dan sesungguhnya aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk menziarahinya, maka Dia memberikan izin kepadaku'.”

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengetengahkan hadis ini pula melalui jalur lain bersumberkan dari riwayat Ibnu Mas'ud yang isinya hampir sama. Di dalam riwayatnya ini disebutkan bahwa Nabi SAW. bersabda,

"وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، وَأَنْزَلَ عَلِيَّ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى} فَأَخَذَنِي مَا يَأْخُذُ الْوَلَدُ لِلْوَالِدَةِ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ"

"Sesungguhnya aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk mendoakan ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkan aku melakukannya, dan diturunkanlah kepadaku firman Allah SWT. yang mengatakan: 'Tiada-lah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman.' (QS. At-Taubah: 113), hingga akhir ayat. Maka aku pun merasa sedih sebagaimana sedihnya seorang anak terhadap orang tuanya. Dan aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingat­kan akhirat."

Hadis lain yang semakna yaitu, Imam Tabrani mengatakan: dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW ketika kembali dari medan Tabuk melakukan ibadah Umrah. Ketika turun dari Lereng Asfan, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk beristirahat di Aqabah menunggunya yang akan pergi hingga beliau bergabung kembali dengan mereka. Nabi SAW. pergi, lalu turun di kuburan ibunya dan bermunajat kepada Rabb-nya cukup lama. Setelah itu beliau menangis dengan tangisan yang berat, maka mereka yang menemaninya ikut menangis pula karena tangisannya. Mereka mengatakan bahwa tidak sekali-kali Nabi Allah menangis di tempat seperti ini melainkan Allah telah menurunkan sesuatu buat umatnya yang tidak akan mampu mereka melakukannya. Ketika mereka menangis, maka Nabi SAW bangkit dan kembali kepada mereka, lalu bertanya, "Apakah yang menyebabkan kalian menangis?" Mereka menjawab, "Wahai Nabi Allah, kami menangis karena tangisanmu." Mereka mengatakan kepadanya, "Barangkali Allah telah memerintahkan sesuatu kepada umatmu yang tidak mampu mereka sanggah." Nabi SAW bersabda:

"Tidak, memang sebagiannya. Tetapi aku turun di atas kubur ibuku, lalu aku memohon kepada Allah agar Dia memberiku izin untuk memberikan syafaat buat ibuku di hari kiamat nanti, tetapi Allah menolak dan tidak memberiku izin, sehingga aku menangis karena dia adalah ibuku sendiri, aku kasihan kepadanya. Lalu datanglah Jibril kepadaku dan membawakan firman-Nya: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya". (QS. At-Taubah: 114); Jibril berkata, 'Maka berlepas dirilah kamu dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari ayahnya,.' Maka aku merasa kasihan kepadanya karena dia adalah ibuku sendiri. Dan aku berdoa kepada Rabb-ku semoga Dia melenyapkan dari umatku empat perkara. Maka Allah melenyapkan dari mereka dua perkara dan menolak / tidak mau melenyapkan yang duanya lagi. Aku berdoa kepada Rabb-ku, semoga Dia melenyapkan dari mereka rajam dari langit dan banjir dari bumi yang menenggelam­kan, dan hendaklah Dia tidak memecah belah mereka menjadi berbagai golongan, serta hendaklah Dia tidak merasakan kepada sebagian dari mereka dengan keganasan sebagian yang lainnya. Maka ternyata Allah melenyapkan dari mereka azab rajam dari langit dan banjir yang menenggelamkan dari tanah, tetapi Allah menolak, tidak mau melenyap­kan dari mereka pembunuhan dan perpecahan."

Saudaraku, lalu bagaimana dengan kita yang sudah datang risalah tauhid?? Sudah sampai kepada kita bahwa Allah melarang kita mengabdi kepada thoghut? Dilarang mengabdi kepada sesama manusia? Tetapi ajaran barat (demokrasi) telah lama diterapkan dan kebanyakan manusia tidak merespon kesyirikan besar ini?

Jika ibunda Rasul saja yang meninggal sebelum Muhammad SAW diutus, tetapi dia termasuk ada tamakkun /peluang untuk mendapatkan tauhid walaupun sedikit, lalu apa gerangan dengan kita yang sudah jelas ada tamakkun/ peluang untuk menjadi orang bertauhid???

Terakhir, saya kutip firman Allah SWT :

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِۦ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِۦ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb-mu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah." (QS. Luqman 31: 33)


Nasehat ini terkhusus untuk anak-cucuku. Semoga bermanfaat.

Ya Allah, saksikanlah, saya telah mengingatkan.
Wa shalallahu 'ala Muhammad wa'ala Alihi wa ashabihi ajma'in. Walhamdulillah
channel_ISLAMIC INSTITUTE

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ

TALBIS IBLIS Terhadap Golongan KHAWARIJ Oleh: Ibnul Jauzi Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya ada...